Klinik Aborsi di Jakarta Beromzet Rp 5 Milyar Dibongkar Polisi

    


Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus bersama Komnas Perlindungan Anak menggelar keterangan pers terkait klinik Aborsi di Jakarta Pusat - foto: Bob/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – dr. A alias MM, eks PNS di Riau terlibat dalam praktik aborsi di klinik yang dijalankannya di Paseban Raya, kawasan Senin, Jakarta Pusat. Selama 21 bulan beroperasi, pelaku meraup uang dari hasil kejahatan aborsi mencapai lebih dari Rp 5 milyar.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menjelaskan, Unit III Ditreskrimum Polda Metro Jaya membongkar praktik kedokteran tanpa ijin itu.

“Pelaku ini memiliki riwayat kasus yang cukup panjang. Yang bersangkutan pernah terlibat kasus adopsi anak dan penah dihukum,” jelas Yusri, Jumat, 14 Februari 2020.

Pada 2016, dr. A juga tersangkut kasus hukum praktik aborsi. Kemudian terakhir, pelaku kembali mengulang perbuatannya. Selama menjalankan praktik di Klinik Paseban Raya, dikatakan Yusri, pelaku menangani 1.632 pasien dengan jumlah pasien yang diabrosi sebanyak 903 orang.

“Ini pengungkapan besar, dan kami akan terus mengejar praktik-praktik seperti ini,” ujarnya.

Pelaku mematok tarif sesuai usia janin dari harga Rp 1 juta untuk janin usia sebulan, Rp 2 juta janin usia dua bulan dan Rp 3 juta untuk janin berumur 3 bulan. Diatas usia itu, kata Yusri, tarifnya Rp 4 – Rp 4,5 juta.

Selain dr. A, polisi juga meringkus RM yang berperan sebagai bidan dan calo dalam mempromosikan praktik aborsi ilegal itu melalui portal online. Satu tersangka lagi yakni SI. Di klinik itu SI berperan sebagai juru daftar pasien.

“Baik dr. A, RM dan SI, semuanya residivis untuk kasus yang sama. RM pernah pada 2016, SI juga pernah divonus 2,3 tahun, keluar, kemudian mengulangi lagi perbuatannya,” kata Yusri.

Polisi menemukan barang bukti 2 janin berusia 6 bulan.

Aries Merdeka Sirait dari Komnas Perlindungan Anak menyatakan, praktik aborsi merupakan kejahatan atas kemanusiaan. Bayi sejak masih dalam kandungan memiliki hak hidup.

Namun dari praktik aborsi ilegal yang dilakukan para pelaku, kata Aries Merdeka, hak hidupnya dirampas.

“Jadi yang perlu saya tekanan, para pelaku juga melanggar UU perlindungan anak. Mengingat, usia anak dihitung sejak dalam kandungan hingga 18 tahun,” jelas Aries. (Bob)