KKP Tinjau Sentra Perikanan di Rote Ndao

    


Rote Ndao terkenal dengan kawasan penghasil rumput laut dengan kualitas terbaik, dengan produksi rata-rata rumput laut kering selama periode 2014-2018 sebesar 16.693,4 ton per tahun - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Perairan Rote Ndao merupakan wilayah yang masuk dalam WPP 573 dengan potensi perikanan tangkap bisa mencapai 3,19 juta ton per tahun.

Begitupun dengan perikanan budidaya. Sejak lama, Rote terkenal dengan kawasan penghasil rumput laut dengan kualitas terbaik, dengan produksi rata-rata rumput laut kering selama periode 2014-2018 sebesar 16.693,4 ton per tahun.

Tahun 2016, KKP telah memberikan dukungan kapal penangkap ikan ukuran 5 GT sebanyak 45 unit dan 10 GT sebanyak 10 unit. Sedangkan tahun 2018 berupa kapal 3 GT sebanyak 30 unit.

“Melalui bantuan armada kapal, ada peningkatan produktifitas hasil tangkapan yang berimbas pada peningkatan pendapatan nelayan yang semula Rp 3,75 juta per bulan menjadi Rp 4,5 juta per bulan,” jelas Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto di Rote Ndao, NTT.

Dirjen Perikanan Budidaya beserta rombongan meninjau fasilitas Air Blast Freezer (ABF) dan Ice Flake Mechine (IFM) di Pelabuhan Perikanan Indonesia (PPI) Tulendale, Rote Ndao.

Menurut Slamet, KKP memfokuskan kebijakan SKPT di Kabupaten Rote Ndao pada pengembangan bisnis berbasis komoditas unggulan daerah.

“Rote sudah miliki kekuatan, tinggal kita fasilitasi agar siklus bisnis berjalan efektif. Rote bisa jadi pusat ekonomi baru di ujung Selatan,” jelas Slamet.

Sementara, Bupati Rote Ndao Paulina Haning Bullu, menyambut baik dukungan Pemerintah pusat untuk pembangunan ekonomi di Kabupaten Rote Ndao.

“Dengan dukungan ini, kami berharap bisa membangun ekonomi Rote lebih baik lagi,” ujar Paulina Haning. (*)