KKP Kembangkan Embung dan Unit Produksi Pakan Mandiri

    


Unit Produksi Pakan Mandiri di Pangandaran - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat membangun unit produksi pakan mandiri di tahun 2018 dengan luas unit produksi 7.000 m2. Unit produksi itu bertujuan untuk mencukupi kebutuhan pakan murah dan berkualitas bagi pembudidaya kecil khususnya untuk area Jawa Barat.

Dengan dikelola oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Laut Lampung, kapasitas produksinya mencapai 1 ton per jam atau 30-50 ton per bulan. Tercatat, hingga September 2019, unit produksi pakan ini telah memproduksi sebanyak 70,8 ton dan telah terdistribusi sebanyak 57,7 ton untuk bantuan bagi pembudidaya ikan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, unit produksi pakan mandiri itu merupakan pabrik pakan skala medium dengan spesifikasi produk, pakan jenis apung, slow sinking dan pakan tenggelam.

“Peruntukannya, untuk semua jenis ikan budidaya. Produksi pakan itu dilakukan dengan SOP yang ideal, bermutu baik dan sesuai Standar Nasional Indonesia,” jelas Slamet Soebjakto.

Tercapainya kuota pakan mandiri, kata Slamet, Kementerian Kelautan dan Perikanan dapat melakukan intervensi harga penjualan untuk jenis slow sinking dengan kisaran harga Rp 6.500 – Rp. 7.000 per kg. Harga ini mampu dijangkau pembudidaya kecil dan berdampak pada peningkatan efisiensi produksi hingga 30 persen.

Selain itu, kata Slamet Soebjakto, pemanfaatan pakan mandiri terbukti menjadikan pembudidaya lebih berdaya. Ekonomi mereka akan semakin meningkat karena meningkatnya produksi budidaya

Slamet Soebjakto juga menambahkan, pakan mandiri harus ramah lingkungan. Yang perlu diperhatikan, menurutnya adalah pakan yang diproduksi memiliki kadar fosfor rendah.

“kKarena jika kandungan fosfor terlalu tinggi akan menyebabkan blooming alga yang dapat membahayakan bagi ikan budidaya,” ujarnya.

Embung Pananjung

Embung di Desa Pananjung Pangandaran - foto: Istimewa

Embung di Desa Pananjung Pangandaran – foto: Istimewa

Pembangunan embung di desa Pananjung Pangandaran dilakukan di atas lahan 4,1 Ha. Embung itu dikelola oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi.

Fungsi Embung tersebut antara lain sebagai pengembangan budidaya berbasis penangkapan (CBF), pengendali banjir, menjaga ketersediaan air, alternatif tempat olahraga (jogging, kano), tempat bermain dan rekreasi (wisata). Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, pembangunan embung diharapkan akan memberikan multiplier effect bagi ekonomi daerah dan masyarakat.

Spesifikasi embung memiliki panjang 428 m, lebar 100 m, dan kedalaman 4-7 meter. Kemampuan kapasitas tampung air 35.000 m3.

“Embung juga dilengkapi dengan gazebo untuk fasilitas pertemuan pembudidaya ikan, fasilitas jogging track, ruang terbuka hijau untuk rekreasi masyarakat umum,” jelas Slamet Soebjakto.

Ia menambahkan, pemberdayaan masyarakat, khususnya perikanan, akan mendorong pemanfaatan perikanan berbasis budidaya atau culture based fisheries. Masyarakat bisa memanfaatkan sumber daya ikan untuk ukuran tertentu dan dalam periode waktu tertentu. Benih berasal dari kegiatan budidaya.

Menurut Slamet, ada 3 aspek penting dari Embung tersebut yakni, ekonomi, lingkungan dan estetika. Keberadaan embung dimaksudkan untuk menambah pendapatan masyatakat melalui kegiatan perikanan berbasis budidaya.

Selain itu, berfungsi untuk penampung air dan pengendali banjir dan kawasan wisata nasional.

“Keberadaan embung di Pangandaran diharapkan dapat menambah daya tarik wisatawan. Serta optimis keberadaan embung ini akan mampu memberikan multiplier effect, khususnya bagi masyarakat dan kepentingan daerah. Apalagi Pangandaran ini kan sebagai kawasan strategis pariwisata di Jawa Barat bahkan nasional,” jelas Slamet. (*)