Kisah Dibalik Jeruji Para Pencari Suaka

    


Salah satu bocah imigran asal Timur Tengah yang dibawa orangtuanya dalam mencari suaka politik - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Mereka tidak bersalah, juga tidak melakukan perbuatan kriminal, tapi harus meringkuk dibalik jeruji Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim). Mereka adalah para imigran yang hengkang dari negaranya untuk melakukan eksodus dalam mencari suaka politik di negara lain. Seperti apa kisah dibalik jeruji besi Rudenim?

Rudenim Denpasar yang berada di Jimbaran Bali itu memang cukup luas. Di kawasan perbukitan Jimbaran, tahanan itu berdiri megah dengan ruangan tahanan terdiri dari dua blok. Masing-masing blok memiliki delapan kamar tidur yang berukuran sangat luas. Untuk tempat beraktifitas para tahanan yang sebenarnya para pencari suaka itu, disediakan tanah yang cukup lapang.

Meski demikian, pada batas-batas tertentu tembok yang dilengkapi kawat berduri juga berdiri menjulang tinggi. Artinya, sekalipun mendapatkan fasilitas yang cukup layak, namun para imigran gelap itu tidak boleh keluar. Aktifitas hanya boleh dilakukan di dalam rumah detensi.

Disitulah, tempat tahanan sementara warga asing yang menyalahi ijin tinggal atau terpaksa harus menerobos wilayah Indonesia tanpa dokumen lengkap.

Diungkapkan I Made Widiantara yang saat itu menjabat sebagai Pelaksana Harian Rudenim Denpasar, para imigran ini ‘terpenjara’ bukan karena satu kasus pelanggaran saja, melainkan ada beberapa pelanggaran yang dilakukan. Kebanyakan adalah gelombang imigran gelap asal Timur Tengah.

Menurut Widiantara, Sebelum sampai di negara tujuan, Australia, warga Afganistan itu memutuskan untuk singgah di Bali. Mengingat, Bali adalah tujuan wisata internasional. Setidaknya, pembauran mereka dengan turis mancanegara tidak akan terdeteksi oleh petugas imigrasi. Jadi, mereka berharap tidak akan tertangkap petugas.