Keunikan Blimbingsari, Desa Wisata di Bali Barat

    


Mayoritas warga Desa Blimbingsari penganut Nasrani. Bangunan gereja disana tetap mengadopsi gaya bangunan Bali termasuk tata cara peribadatannya juga mengenakan busana Bali - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Ingin merasakan nuansa beda dalam berwisata? Desa Blimbingsari di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali ini, bisa jadi salah satu alternatif untuk dicoba.

Desa seluas 450 hektar ini hanya terdiri dari dua dusun. Disitu warganya secara swadaya mengembangkan potensi yang ada dengan merehab rumahnya menjadi pondok hunian untuk wisatawan. Mereka boleh tinggal bersama pemilik rumah di homestay yang disediakan.

Ketua Komite Desa Wisata Blimbingsari, I Gede Sudigda menjelaskan, pertumbuhan pariwisata berbasis masyarakat akan membentuk karakteristik masyarakat mencintai pariwisata.

“Bukan investor yang ada di desa kami, tapi pemilik usaha itu tak lain warga sendiri dengan semangat mengelola desa wisata,” jelas Sudigda di STP Nusa Dua, Kamis (21/3/2019).

Menurutnya, salah satu kebiasaan masyarakat Blimbingsari yakni, membangun toilet di luar rumah. Namun dengan desa mereka dijadikan sebagai tempat wisata dan homestay, sarana toilet dibangun di dalam rumah. Kesadaran itu, jelas Sudigda, tumbuh karena ada semangat dalam membangun desa mereka sebagai desa wisata.

“Kalau dikelola oleh masyarakat, Sapta pesona akan jalan sempurna dan lingkungan akan terpelihara dengan baik,” ujarnya demikian.

Community Based Tourism (CBT) di Desa Blimbingsari berawal dari pendidikan untuk warga dalam mereduksi sampah plastik. Kala itu, diceritakan Sudigda, warga tidak dibolehkan membuang sampah plastik maupun botol plastik secara sembarangan.

Bahkan, anak-anak juga diajarkan tidak membuang bungkus permen sembarangan.

“Dan itu berhasil. di Kabupaten Jembrana desa kami selalu dapat juara. Dari juara KB sejak Soeharto selalu jadi juara nasional. Jaman Mangku Pastika jadi Kapolda Bali, daerah kami dapat juara bebas narkoba dan miras. Sampai tahun 2017 lalu, dapat juara pertama nasional Community Based Tourism (CBT),” papar Sudigda.

Sampai saat ini, wisatawan asing mulai merambah desa Blimbingsari. Sudigda mengatakan, turis Jepang dari Kansai University setiap tahun berkunjung kesana

“Kami memelihara lingkungan dengan baik. Ada banyak spesies burung karena berdekatan dengan Taman Nasional Bali Barat (TNBB),” ujarnya demikian.

Sementara, Ketua STP Nusa Dua, Drs Dewa Gede Ngurah Byomantara, M.Ed., menjelaskan, hampir semua desa di Bali memiliki potensi sama untuk dikembangkan sebagai Desa Wisata.

Hanya saja, kebiasaan latah seperti menjadi persoalan sampai akhirnya banyak pembangunan desa Wisata tidak berhasil dengan baik.

“Harus beda dengan yang lain, jangan ikut-ikutan yang sudah ada. Pembangunan Desa Wisata perlu mengangkat potensi lokal yang unik dan berbeda,” jelas Byomantara. (Way)