Ketut Mardjana Tanggapi Rencana Proyek Kereta Gantung

    


Ketua PHRI Bangli Dr. I Ketut Mardjana, Ph.D yang juga pemilik Toya Devasya Natural Hot Spring - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Terkait rencana proyek cable car atau kereta gantung di kawasan Gunung Abang, Kintamani, mendapat sorotan dari pelbagai kalangan di masyarakat. Di sisi lain, Ketua PHRI Bangli Dr. I Ketut Mardjana, Ph.D, menilai pada prinsipnya terlebih dahulu harus ada penetapan kebijakan pembangunan di kawasan Geopark Batur.

Apakah kawasan itu akan ditetapkan sebagai investment base (investasi berbasis modal besar) atau community base (investasi berbasis masyarakat).

Jika menerapkan konsep pertama, pembangunan proyek dipastikan akan lebih cepat, produk dan pasar dapat diciptakan lebih cepat, sehingga hasilnya lebih cepat.

“Tapi kekurangannya, masyarakat tidak menjadi tuan rumah di tanah kelahirannya, ini lebih cenderung menjadi abdi. Keuntungan yang dihasilkan akan lari ke luar, sehingga peredaran uangnya lari ke asal mula pemilik investasi,” jelas pemilik Toya Devasya Natural Hot Spring itu.

Sebaliknya, kalau berbasis community base, pertumbuhannya cenderung lambat tapi akan memberikan dampak langsung kepada masyarakat,” jelasnya.

Ketut Mardjana melanjutkan, kalau kemudian memilih jalur pertama, ia mewanti-wanti agar pembangunan tidak mengotori tempat suci, tidak merusak kesakralan alam, dan tempat suci. Dalam hal ini, pemerintah dinilai tidak bisa berjalan sendiri, tetapi perlu mendapat dukungan dari masyarakat lokal.

Sementara, jika diambil investasi berbasis masyarakat, secara langsung investor jenis ini sudah tahu kearifan lokal yang ada.

Tapi sambungnya, apapun kebijakan yang akan diambil perlu dilaksanakan sosialisasi kepada masyarakat sehingga masyarakat memahami risiko atau manfaat yang akan diperoleh. Jangan sampai pembangunan proyek justru melahirkan konflik baru. Perencanaan pembangunan wajib disinergikan dengan kearifan lokal yang dijunjung masyarakat sekitar.

“Saya dengar planning-nya, di atas danau akan ada rumah putri, tapi belum apa-apa masyarakat sudah mengkritik karena dianggap dapat mengotori danau, bagaimana (ditakutkan) kereta gantung akan menurunkan kadar kesucian pura,” jelasnya.

Mardjana menekankan, para pemangku kepentingan diharapkan mampu menyerap aspirasi masyarakat. Termasuk menjaga kawasan suci.

“Kebetulan di sini ada pemerintah, di sini ada Badan Pengelola Pariwisata Geopark, kita harapkan betul-betul memikirkan aspirasi masyarakat, dan saya sepakat hal itu harus dijaga. Pengembangan harus dilakukan dengan bijak, jangan sampai merusak alam,” ujarnya demikian. (*)