Ketua PGRI Bali: Kekurangan Guru Harus Segera Diisi

    


Ketua PGRI Denpasar yang juga Kepala SMP PGRI 2 Kota Denpasar (melambaikan tangan), bersama guru pada peringatan HUT PGRI Ke-72 dan Hari Guru Nasional Ke-23, Sabtu, 25 November 2017 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Di usia PGRI yang Ke-72 dan Hari Guru yang telah menginjak 23 tahun, persoalan pendidikan di Indonesia masih terasa jauh panggang dari api. Jumlah guru secara merata di tingkat nasional masih kurang dari standar yang ada.

Ketua PGRI Bali Dr. I Gede Wenten Aryasuda, M.Pd., mengakui kekurangan guru akan berdampak pada proses belajar mengajar yang bermuara pada turunnya kualitas pendidikan.

Dalam hal ini, PGRI terus mendesak pemerintah untuk mengisi kekosongan guru. Aryasuda mengungkapkan, persoalan Guru Tidak Tetap (GTT) saat ini menjadi sebuah emergency yang harus ditangani.

“Yang paling parah kekurangan guru di wilayah yang penduduknya besar,” jelas Gede Wenten Aryasuda, Sabtu, 25 November 2017.

Siswa siswi berprestasi SMP PGRI 2 Denpasar di tingkat Porjar Kota Denpasar - foto: Koranjuri.com

Siswa siswi berprestasi SMP PGRI 2 Denpasar di tingkat Porjar Kota Denpasar – foto: Koranjuri.com

Di wilayah Bali, Kabupaten Karangasem dan Buleleng menjadi daerah yang penduduknya cukup besar. Dengan demikian, distribusi guru di dua kabupaten itu masih sangat dibutuhkan.

Gede Wenten Aryasuda juga menyoroti Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang hingga saat ini masih jadi persoalan. Tantangan PGRI di usianya yang Ke-72 ini, adalah mencari cara dan terus menyuarakan keluh kesah guru kepada pemerintah.

“Dalam catatan saya, dua hal (kebutuhan guru dan TPG) itu yang masih mengganjal di dunia pendidikan tanah air,” jelas Aryasuda.

25 November dicanangkan sebagai Hari Guru Nasional Ke-23 sekaligus peringatan HUT PGRI Ke-72. Dasar ditetapkannnya Hari Guru Nasional mengacu pada Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, tentang Hari Guru Nasional.

Guru pertama kali berkongres di Solo, Jawa Tengah, pada masa 100 hari setelah proklamasi kemerdekaan RI. Di tengah suasana dentuman meriam dan rentetan senjata, para guru berikrar memajukan pendidikan Indonesia sebagai perlawanan melawan penjajah.

“Pada masa itu, penjajah mengkotak-kotakkan guru sehingga timbul blok diantara para guru sendiri. Kongres pertama di Surakarta tak lain bentuk perlawanan kepada penjajah yang tak menginginkan rakyat Indonesia berkembang secara intelektual melalui pendidikan,” jelas Gede Wenten Aryasuda membacakan sambutan Menteri Pendidikan RI dalam peringatan Hari PGRI Ke-72 dan Hari Guru Nasional.

Banyak hal yang dapat dipetik dengan perjalan yang hampir tiga perempat abad PGRI. Dikatakan Aryasuda, PGRI hingga kini tetap solid dengan bentuk tetap.

“Tidak mengalami kekosongan kepemimpinan. PGRI tetap solid dengan solidaritas tinggi, termasuk komunikasi dengan pemerintah tetap berjalan baik,” ujarnya. (way)