Kepanikan Kembali Terjadi Saat Gempa Susulan 6,2 SR

    


Situasi di Kota Mataram, NTB, ketika terjadi gempa susulan bermagnitudo 6,2, Kamis, 9 Agustus 2018 - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Gempa susulan kembali terjadi pada Kamis, 9 Agustus 2018 pukul 13.25 Wita. Lindu bermagnitudo 6,2 yang berpusat di 6 km barat laut Lombok Utara kedalaman 12 km dan tidak berpotensi tsunami.

BMKG mencatat hingga Kamis pagi, gempa susulan sudah terjadi sebanyak 355 kali.

Sementara, guncangan gempa terasa hingga Bali dalam waktu sekitar 3 detik. Namun kepanikan sempat terjadi hingga warga dan pegawai perkantoran melakukan antisipasi dengan keluar dari ruangan.

Di Denpasar, Lindu cukup keras dirasakan oleh warga. “Kaget dan panik karena masih trauma dengan gempa sebelumnya pada hari Minggu (5/8/2108) lalu,” jelas Adhi Irawan, salah satu warga di Denpasar.

Sementara, hingga 8 Agustus 2018, terdata jumlah korban meninggal dunia sebanyak 381 orang, luka-luka 381 orang dan kerusakan rumah sebanyak 22.721 unit.

Namun data korban meninggal dunia menurut BNPB dan BPBD NTB sebanyak 131 orang untuk wilayah NTB dan Bali hingga (8/8/2018) siang. Data laporan TNI sebanyak 381 orang meninggal dunia.

Sementara itu pernyataan Gubernur NTB dan Basarnas kepada media, jumlah korban meninggal dunia di NTB 226 orang. Sedangkan data menurut Bupati Lombok Utara, korban meninggal dunia di Lombok Utara 347 jiwa berdasarkan pertemuan camat se Lombok Utara.

Perbedaan angka yang besar, menurut
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, perbedaan data korban selama masa tanggap darurat adalah hal yang biasa.

“Kejadian perbedaan data korban selama masa tanggap darurat adalah hal biasa seperti saat gempabumi di Sumatera Barat 2009, erupsi Gunung Merapi 2010, tsunami Mentawai 2010 dan sebagainya saat bencana besar,” jelas Sutopo.

Menurutnya lagi, kebutuhan kecepatan melaporkan kondisi penanganan bencana saat krisis diperlukan sehingga menggunakan data sendiri. Akhirnya ang terjadi antara satu institusi memiliki data sendiri-sendiri dan berbeda. (Way/*)