Keluarga Wenty, Korban KDRT Angkat Bicara

    


Wenti Zacharias (21) korban KDRT yang diduga dilakukan oleh suaminya sendiri saat mendapatkan perawatan medis - foto: Isak Doris Faot/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kisah KDRT banyak terjadi, namun sedikit yang terangkat di permukaan. Kisah yang dialami Wenti Zacharias (21) asal Kecamatan Lobalain, Rote Ndao, NTT ini jadi salah satu kekerasan yang sempat teredam namun akhirnya terungkap juga.

Terduga pelaku suaminya sendiri Dandro Kaimeni (21) yang sudah ditahan di Polsek Lobalain pada (3/7/2019). Sebelumnya, pelaku atau suami korban, pernah dilaporkan atas kasus yang sama, namun dikeluarkan setelah berkas yang diserahkan ke kejaksaan belum lengkap dan dikembalikan lagi ke polisi.

Ayah korban, Aren Zacharias, menceritakan, kekerasan yang dialami korban bukan baru sekarang dialami. Mereka menikah 3 tahun lalu, namun satu bulan menikah, korban sudah dianiaya pelaku.

“Padahal korban dan pelaku tinggal di rumah orangtua pelaku yang juga tidak jauh dari rumah saya,” jelas Aren.

Hingga anak mereka lahir 2 tahun lalu, pelaku masih kerap menganiaya istrinya.

“Kadang kalau sudah dipukul pelaku, korban bersama anaknya datang tidur dirumah,” lanjutnya.

Tahun lalu, di pertengahan Juni 2018, tinggal di Bogor di tempat kerabat bersama anaknya yang berusia 1 tahun. Menurut Aren, Wenti merasa sudah tidak tahan dengan kelakuan kasar suaminya

Namun pada Desember 2018, mereka kembali lagi dan malah tinggal dengan pelaku di Kupang. Bulan Februari, mereka kembali ke kampung halaman di Rote karena pelaku mengalami sakit.

Untuk menghidupi keluarganya di saat pelaku sakit, korban Wenty bekerja sebagai resepsionis di sebuah Hotel di Kota Ba’a.

“Dan itupun atas seijin menantu saya (pelaku). Tapi seingat saya, tanggal (7/3/2019), pelaku pukul korban lagi. Esoknya lagi, memukul dan merusak HP anak saya, tanggal (9/3/2019), anak saya takut dan tidur dirumah kami,” ujar Aren.

Puncaknya, korban dipukuli hingga babak belur ketika ingin melihat anaknya dan pelaku tidak mengijinkan.

“Anak saya bersikeras dan sempat menggendong anaknya, namun ditarik pelaku, setelah itu pelaku langsung memukul korban hingga babak belur,” kata Aren.

Karena merasa terancam, tindak kekerasan itu dilaporkan ke Polsek Lobalain dengan surat laporan bernomor LP/05/III/2019/NTT/Res.Rn/Sek.Lbn. (Zak)