Kekeringan di Bali Surutkan Debit Air Waduk dan Ratusan Hektar Sawah Gagal Panen

    


Debit air Waduk Muara Nusa Dua di muara Tukad Badung mengalami penurunan drastis - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Waduk muara yang tertelak di muara Tukad Badung semakin krisis air di tengah kemarau panjang sepanjang tahun ini. Diperparah lagi dengan sedimentasi dalam tingkat parah. Saat air surut karena cuaca kemarau seperti sekarang, permukaan waduk terlihat menjadi hamparan ‘lapangan’ enceng gondok.

Waduk yang sejak awal dimanfaatkan sebagai suplai utama pemenuhan air baku dan pemenuhan air bersih di wilayah Nusa Dua dan Kuta, seperti tidak berfungsi lagi.

“Seharusnya di musim kemarau ini dikeruk, jadi nanti kalau masuk musim penghujan daya tampung air lebih besar dan tidak mengakibatkan banjir,” kata seorang warga yang ada sekitar Waduk Muara Nusa Dua, Sabtu, 21 November 2015.

Sebuah waduk akan panjang umur bila dikeruk. Balai Wilayah Sungai Bali Penida (BWSBP) yang seharusnya menangani normalisasi tampungan waduk Muara Nusa Dua, seakan membiarkan saja kondisi sedimentasi yang sudah cukup parah itu.
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Mudjiadi, sempat memberikan pernyataan, persoalan Waduk Muara Nusa Dua karena sedimentasi dan tumpukan sampah.

Kekeringan panjang akibat dampak Badai El-nino ini juga dirasakan petani di beberapa daerah di Bali. Dari catatan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Bali, seluas 856,35 hektare lahan tanaman terdampak kekeringan dari tingkat ringan, berat sampai gagal panen.

Areal persawahan dengan kekeringan kategori ringan tercatat seluas 343,1 hektar, sedang 239,75 hektar, dan kekeringan berat seluas 133,5 hektar.

“Mayoritas yang kekeringan ringan hingga berat juga terjadi di Kabupaten Buleleng. Kekeringan ini akibat dampak Elnino dan kami prediksi bisa semakin meluas,” kata Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Bali, Ida Bagus Wisnuardhana.
 
 
 
way