Keinginan Koster Wujudkan Bali Jadi Beranda Toleransi Beragama

    


Pertemuan elemen masyarakat bersama calon Gubernur nomer urut 1 I Wayan Koster di Desa Budaya Kertalangu, Denpasar, Sabtu, 5 Mei 2018 - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Calon Gubernur Bali, Wayan Koster menggelar pertemuan dengan kelompok lintas agama dan suku di Denpasar. Pada pertemuan yang dihadiri Ikawangi, IKMS Bali, Bamus Sunda, PW NU Bali dan sejumlah tokoh masyarakat lintas etnis seperti Ardi Ganggas, H. Edy Rizal dan H. Syahwan.

Dihadapan sekitar 700-an warga yang rata-rata tinggal di Kota Denpasar, Koster menyebut Bali merupakan cerminan dari kebhinekaan di Indonesia. 

“Bali ini terdiri dari berbagai komponen masyarakat baik dari sisi agama maupun asal golongannya. Karena itu, kehidupan masyarakat Bali harus dibangun dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945,” ujar Koster di Desa Budaya Kertalangu Denpasar, Sabtu 5 Mei 2018.

Ia ingin nilai-nilai Pancasila yang merupakan ajaran Bung Karno diterapkan dengan baik di Bali, khususnya di Kota Denpasar. 

“Bali harus jadi wilayah percontohan membumikan nilai-nilai Pancasila agar semua masyarakat di Bali merasakan pengayoman penuh oleh pemimpin Bali kelak. Kemudian difasilitasi melalui kebijakan yang harus peduli dan berpihak kepada kelompok masyarakat di Bali, apalagi di Denpasar yang sangat heterogen ini,” tegas Koster.

Menurut dia, hal itu bisa dilakukan dengan pola kepimpinan yang arif dan bijaksana.

“Ini membutuhkan kepemimpinan yang arif, bijaksana, bisa mengayomi, menjaga, mengajak semua komponen membangun, menjaga dan memajukam Bali,” ujarnya.

“Kita bertanggungjawab memajukan Bali meningkatkan kesejahteraan rakyat Bali didasarkan pada toleransi dan kerukunan yang dibangun berdasarkan nilai-nilai agama yang kita tahu bersama semua mengajarkan hidup rukun, toleran dan bekerjasama untuk membangun Bali ke depan,” tambah Koster.

Ketua PWNU Bali, Abdul Aziz sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Wayan Koster. Menurutnya, kerukunan di Bali mesti dijaga agar pembangunan Bali tak terganggu apapun. 

“Kerukunan adalah sebuah hal yang sangat baik untuk memelihara keberagaman di Bali. Itu sudah dibuktikan oleh Pak Koster jauh haris sebelum pertemuan ini dilaksanakan,” papar dia.

Menurutnya, seluruh komponen masyarakat Bali lintas agama dan etnis harus bersatu mrmbangun Bali ke depan.

“Sehingga Bali ini bisa menjadi tolok ukur bagi pembangunan Bali yang seiring sejalan dengan beragaman dan toleransi yang terajut dengan baik.

“Kita harus menyatukan visi membangun Bali ke depan. Memelihara dan membangun Bali secara utuh, ini harapan besar kami. Kami harap ini bisa diwujudkan sehingga Bali ini menjadi tolok ukur di tingkat nasional bahkan global bagaimana toleransi itu berjalan dengan baik. Saya yakin Pak Koster mampu mewujudkan hal itu,” tutup dia. (*)