Kehidupan di Desa Bengkala Singaraja, Kampung dengan Fenomena Bisu dan Tuli

    


Gerbang desa memasuki Desa Bengkala - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Desa Bengkala di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, banyak memiliki penyandang bisu. Keunikan kampung kolok Bengkala disebut-sebut, hanya bisa ditandingi oleh sebuah wilayah di San Jose, Kosta Rika, yang juga banyak memiliki penyandang tuli-bisu. Bedanya, ketulian di San Jose ini terjadi secara progresif. Daya pendengaran berangsur merosot sejak usia 10 tahun dan lenyap total di usia 30-an tahun.

Kolok merupakan sebutan bagi penyandang tuna rungu dan tuna wicara di Bali pada umumnya. Karena banyaknya penyandang cacat bawaan itu, Desa Bengkala kemudian disebut dengan Desa Kolok. Dari sekitar 2.730 warga yang tinggal di desa Bengkala, 40 orang diantaranya mengidap kelainan bisu tuli yang terkumpul di sembilan keluarga. Ini merupakan angka yang cukup tinggi. Mengingat, normalnya bisu-tuli bawaan hanya terjadi pada satu dari 10 ribu kelahiran.

Untuk berkomunikasi antar sesama kolok, mereka menciptakan gaya bahasa isyarat tersendiri yang tidak seperti bahasa tubuh baku untuk penderita bisu tuli. Praktis, hanya mereka yang menderita kekolokan yang memahami ekspresi dan gerak tubuh mereka saat berkomunikasi. Bahasa isyarat mereka jauh lebih sederhana. Misalnya, untuk menyebut makan, mereka cukup mengarahkan jemari tangan ke arah perut. Untuk lapar, cukup dengan memegang perut.

Disamping itu, hubungan antar warga yang normal tidak menderita kecacatan dengan warga lainnya yang kolok juga tidak ada masalah dan selalu harmonis. Desa itu punya lima banjar, yakni Punduh Jero, Tihing, Basta, Asem, Kutuh, dan Coblong, yang selalu ramai dengan bahasa isyarat. Di lima banjar itu pula kesembilan keluarga kolok tersebar. Menurut I Ketut Kantha, seorang warga desa yang ikut menaungi sebuah paguyuban penderita kolok, di desanya juga terdapat sekolah yang dikhususkan untuk warganya yang menderita cacat kolok.

“Kami punya sekolah khusus tingkat SD untuk anak-anak kolok yang namanya sekolah inklusi. Sekolah itu berada di satu lingkungan sekolah dasar umum dan mereka berinteraksi dengan anak-anak normal lainnya. Hanya saja, kami menempatkan siswa kolok di ruang khusus untuk mereka,” jelas Kantha.

Kolok di desa Bengkala tersebut menjadi sebuah fenomena yang sudah ada sejak ratusan tahun silam. Menurut Kantha, kondisi desa Bengkala, mirip dengan penduduk San Jose di Kosta Rika, yang daya pendengarannya berangsur merosot hingga akhirnya hilang sama sekali. Sekaligus, Desa Bengkala menempati urutan kedua penderita kolok setelah penduduk San Jose.

Karena kehidupan yang sudah menyatu antara penderita kolok dengan warga yang lain, mereka akhirnya menyatu dalam perkawinan. Dari situ, generasi kolok umumnya diwariskan secara turun temurun.

Seperti I Made Pinda yang seluruh keluarganya menderita bisu tuli. Meski seolah tidak ada keturunan yang lahir normal dan sehat, Pinda mengaku kolok yang sudah mendarah daging itu menjadi sebuah aib. Bahkan bukan cuma Made Pinda saja, kedua orangtua dan dua saudara kandungnya juga ditakdirkan tuli dan bisu. Tiga mantan istrinya, dua anak dan kedua saudara ipar Pinda juga orang kolok.

“Ini takdir yang tak perlu disesali. Kami semua hidup bahagia dan tidak ada masalah dengan warga lain yang hidup normal. Kami juga bisa hidup normal dengan bekerja seperti yang lain,” kata pria 50 tahun ini dalam bahasa isyarat.

Tapi diluar itu, menurut Kantha, ada juga yang tidak mewariskan kolok meski ada satu keluarga yang menderita bisu tuli. Menurutnya, salah satu warga disana bernama Kadek Srisari yang menikah dengan orang kolok bernama I Wayan Ngarda tidak membenihkan keturunan yang kolok. Pasangan ini ternyata memiliki dua putra dan putri dengan pendengaran normal serta mampu berbicara.

“Nah, itulah yang sampai saat ini kami belum tahu. Kalau bilang ada cerita mitos, ya kami juga percaya. Tapi diluar itu, banyak peneliti bahkan dari luar negeri datang kemari untuk mencari jawaban dari fenomena di desa kami.

Artinya, keanehan ini bisa dijelaskan secara ilmu pengetahuan. Tapi, sampai sekarang pun belum ada jawaban yang benar-benar bisa membuka misteri yang ada,” ungkap pria yang juga berprofesi sebagai pemandu wisata ini.
 
Mitos Desa Kolok