Kasatgas Benarkan, 2 Orang yang Kabur dari Karantina di Bali Pulang ke Rumah

    


Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) salah satu tempat yang akan digunakan untuk karantina pekerja migran asal Bali - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Satgas Penanggulangan Covid-19 Provinsi Bali Dewa Made Indra dibuat geram dengan ketidakaatan pekerja migran Indonesia yang sempat kabur dari karantina sebelum dilakukan tes.

Upaya karantina menurut Dewa Indra, didasarkan berbagai pertimbangan diantaranya, pekerja migran, dalam 14 hari terakhir, punya riwayat pernah singgah di 10 negara terjangkit. Dirinya menekankan, siapapun tidak bisa menawar untuk dikarantina jika ada riwayat singgah di negara terjangkit.

“Benar, pada malam itu ada 2 orang yang lari meninggalkan karantina. Saya selaku ketua Satgas memerintahkan, ambil ke rumahnya, kalau orang tuanya menolak, orang tuanya karantina,” kata Dewa Indra melalui saluran live streaming, Jumat, 27 Maret 2020.

Upaya tegas yang dilakukan, menurutnya, semata-mata untuk melindungi kesehatan dan keselamatan masyarakat secara luas. Kasatgas yang juga Sekda Bali ini menambahkan, pemerintah tak segan menggunakan kekuatan pemaksa (TNI/Polri) bagi yang menolak untuk dikarantina.

Dirinya tak menampik ada keluhan tempat karantina yang dinilai kurang representatif, kemudian diviralkan melalui medsos.

Tempat karantina yang merupakan Balai Diklat milik pemerintah daerah dan pusat itu, dikatakan Dewa Indra, sangat layak dan memiliki sarana yang memadai.

“Disitu kamarnya ber-ac dengan tempat tidur yang layak. Konsumsi juga biasa untuk peserta diklat,” ujarnya demikian.

“Mereka inilah yang mengatakan, tempat karantina ini tidak layak dan menyebarkan di medsos, karena mereka membandingkan dengan vila yang dia miliki,” tambahnya.

Jumlah pekerja migran asal Bali yang dikarantina sebanyak 76 orang. Mereka dites secara cepat dengan alat tes rapid. Bagi yang negatif akan diberikan surat keterangan dari Dinkes Bali dan diijinkan pulang untuk melanjutkan karantina mandiri.

“Kebijakan ini diniatkan dengan baik untuk melindungi masyarakat Bali dari ancaman penyakit yang membahayakan ini,” tambahnya. (Way)