Jatiluwih Festival Tahun ini Garap Festival Musik di Tengah Sawah

    


Prescon pelaksanaan Jatiluwih Festival 2018 yang akan digelar selama 2 hari pada 14-15 September 2018 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Event Jatiluwih Festival 2018 digelar dalam nuansa berbeda dibandingkan event serupa pada 2017 lalu. Kali ini, sebagian kawasan Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih bakal disulap menjadi amphiteater yang akan digunakan sebagai panggung utama bagi seniman maupun musisi yang mengisi acara.

Ito Kurdhi salah satu musisi yang juga direktur festival dalam event tersebut mengatakan, beberapa musisi Jazz ibukota bakal meramaikan Jatiluwih Festival yang digelar kali kedua ini.

“Indra Lesmana Keytar Trio, drummer dan percusionist Gilang Ramadhan, Andy Bayou juga seniman dan musisi asal Bali dari berbagai genre musik seperti Sound of Mine yang berkolaborasi dengan Ginda Bestari, termasuk saya sendiri bersama Ito Kurdhi Chemistry,” jelas pria asal Pekalongan, Jawa Tengah yang lama tinggal di Bali ini, Rabu, 5 September 2018.

Jatiluwih Festival 2018 mengambil tema ‘Matha Subak’ yang menjadi representasi dari konsep Trihita Karana, atau hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan Tuhan. Kawasan Jatiluwih sendiri memiliki daya tarik khas berupa hamparan persawahan. Subak Jatiluwih juga telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Ito menambahkan, kemasan berbeda event Jatiluwih Festival dengan menggabungkan seni tradisional dan kontemporer ini diharapkan dapat mengangkat potensi ekonomi bagi warga sekitar. Selama 2 hari pelaksanaan, 14-15 September 2018, panitia turut melibatkan unsur UMKM yang bergerak di bidang kuliner.

Sementara, Wakil ketua panitia Agus Wardana menambahkan, Jatiluwih Festival tahun ini akan memaksimalkan ajang promosi DTW Jatiluwih di Desa Penebel, Kabupaten Tabanan.

“Acara dikonsep layaknya festival pada umumnya,” jelas Agus yang akrab dengan panggilan Wayang ini.

Sementara, selain penampilan musisi dan seniman tari, kata Wayang, ada seorang Eko Prawoto yang merupakan arsitek yang banyak bereksperimen menggunakan bambu sebagai materialnya. Eko banyak menghasilkan karya instalasi maupun arsitek menggunakan bambu.

Arsitek jebolan UGM dan mendapatkan gelar master dari Berlage Institute, Belanda ini pernah mengikuti beberapa event senirupa, diantaranya Gwangju Biennale (2002) dan Singapore Biennale (2013). (Way)