Jaga Situasi Aman Jelang Nataru, Desa Adat Kerobokan Anjurkan Tak Ada Euforia

    


Bendesa Desa Adat Kerobokan, Anak Agung Putu Sutarja - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Dalam menjaga situasi Kamtibmas tetap kondusif, menjelang pelaksanaan Natal dan Tahun Baru, Bendesa Adat Kerobokan, AA Putu Sutarja menerjunkan 80 Pecalang atau keamanan adat untuk membackup personil TNI/Polri.

Menurut AA Sutarja, di setiap Banjar setidaknya akan ada 10 Pecalang yang berjaga. Hal itu untuk meminimalisir potensi kerawanan terutama tindak kriminal maupun peredaran narkoba.

“Edaran kita sebar di setiap Banjar agar tersosialisasi dengan baik,” ujar Sutarja melalui telepon, Rabu, 6 Desember 2017.

Dalam setiap pengamanan Nataru, Desa Adat yang banyak dikunjungi wisatawan asing itu, selalu berkoordinasi dengan Polri maupun TNI. Namun di sisi lain, Desa Adat juga bertanggungjawab dengan wilayahnya sendiri.

Sutarja juga menghimbau kepada masyarakat agar mampu menjaga keamanan mereka sendiri dengan menghindari kegiatan yang memicu kerawanan. Terkait dengan hal itu, aturan Desa Adat mewajibkan warga Desa Adat Kerobokan merayakan pergantian tahun di dalam Banjar.

“Ini untuk mengurangi kepadatan lalu lintas. Upaya-upaya itu kami lakukan dari tahun ke tahun. Apalagi di tengah kondisi seperti sekarang, harus ada upaya preventif,” jelas Sutarja.

Pihaknya juga menghimbau kepada warga agar tidak menggelar pesta miras dan narkoba. AA Sutarja juga menghimbau kepada warga untuk tidak menyalakan petasan di bulan-bulan Desember ini. Suasana hingar bingar suara petasan jelas akan mengganggu suasana.

Desa Adat memberikan ijin penyalaan kembang api pada saat detik-detik pergantian tahun dan kegiatan itu dilakukan secara terpusat.

“Tidak boleh dilakukan di jalanan, karena akan sangat membahayakan orang lain. Kembang api boleh dinyalakan menjelang detik-detik pergantian tahun atau pukul 00.00,” kata AA Sutarja. (Way)