Jadi Universitas Mahadewa Indonesia, Eks Nahkoda IKIP PGRI Bali, Kembali Dilantik jadi Rektor

    


Ketua Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan IKIP PGRI Bali I Gusti Bagus Arthanegara melantik rektor pertama Universitas Mahadewa Indonesia Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum., Sabtu, 18 Juli 2020 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – IKIP PGRI Bali resmi bertransformasi menjadi Universitas Mahadewa Indonesia. Surat Keputusan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diserahkan oleh LLDIKTI VIII pada 7 Juli 2020.

Dengan perubahan itu, Universitas Mahadewa Indonesia mengelola 13 prodi. Dalam perubahan bentuk ini, Universitas Mahadewa Indonesia merupakan penggabungan 2 kampus yakni, IKIP PGRI Bali dan STIMIK.

Rektor Universitas Mahadewa Indonesia Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum., mengatakan, program yang telah disusun usai pelantikan Rektor dan Pengurus yakni, mensosialisasikan nama Universitas di bidang Olahraga dan Seni.

“Jangan pernah berpikir menunda pekerjaan karena waktu tidak mau menunggu kompromi dan jalan terus,” kata Made Suarta usai dilantik sebagai rektor pertama Universitas Mahadewa Indonesia masa bakti 2020-2024, Sabtu, 18 Juli 2020.

Perubahan yang terjadi dalam kondisi pandemi covid-19 ini, kata Rektor, tetap harus gencar dilakukan, terutama dalam migrasi data. Kecepatan, menurutnya, akan berpengaruh terhadap eksistensi Universitas Mahadewa Indonesia. Sehingga akan menyatu dengan universitas lainnya di Indonesia.

“Saya harap kepada pejabat baru, cerdas spiritualis, akademis, emosional dan sosial berdasar keyakinan. Kata kuncinya bertindak untuk kesuksesan,” ujarnya.

Sementara ketua Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan IKIP PGRI Bali I Gusti Bagus Arthanegara menambahkan, perubahan status IKIP PGRI Bali menjadi Universitas Mahadewa Indonesia merupakan rahmat Tuhan Yang Maha Esa.

“Selama tiga tahun berjuang, syukurnya SK Mendikbud turun di hari-hari penting umat Hindu. Kita lantik rektor di Tumpek Landep dan kita harapkan ketajaman berpikir dalam menjalankan tugas-tugas bisa tercapai,” katanya.

Terkait dipilihnya kembali Made Suarta sebagai rektor, Arthanegara mengatakan itu bukan kehendak pribadi. Namun, keputusan rapat yayasan, dan melalui kajian cukup dalam.

“Kami melihat figur Made Suarta sebagai alumni pertama, sehingga dedikasinya tidak tergoyahkan. Selain itu, selama menjabat rektor, Suarta disiplin, kerja keras dan tuntas serta ikhlas. Itu menjadi pemikiran dan pertimbangan kami,” kata Arthanegara.

Perubahan menjadi Universitas menurutnya, suatu pekerjaan besar yang memerlukan komitmen dan kinerja nyata.

“Kinerja Rektor Suarta tidak diragukan.
Kami mempercainya kembali untuk mengemban universitas ini. Mudah-mudahan harapan bisa tercapai,” jelas Arthanegara. (Way)