Istri Gugat Cerai Suami Mendominasi Perkara Rumah Tangga di Denpasar

    


Ketua Pengadilan Agama Denpasar Drs. Amanudin, SH., M.Hum - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Sepanjang 2021 hingga bulan Oktober, Pengadilan Agama Denpasar menangani 520 kasus perceraian. Pemicu persoalan rumah tangga itu rata-rata karena faktor ekonomi.

Ketua Pengadilan Agama Denpasar Drs. Amanudin, SH., M.Hum., mengatakan, perkara terbanyak yang ditangani adalah cerai gugat atau perkara yang diajukan oleh istri.

“Jumlahnya secara keseluruhan ada 520 perkara, dari jumlah itu yang terbanyak adalah cerai gugat,” kata Amanudin, Jumat, 5 November 2021.

Amanudin menambahkan, kondisi pandemi bukan saja menyebabkan masalah kesehatan, tapi juga persoalan mendasar yang memicu perceraian rumah tangga.

Menurutnya, tekanan ekonomi karena kehilangan pekerjaan dan menganggur menyebabkan istri menggugat cerai suami.

“Faktornya terbanyak karena ekonomi di masa pandemi, karena tidak bisa tahan dengan kondisi, akhirnya lebih memilih hidup sendiri,” jelasnya.

Selain faktor mendasar tersebut, Amanudin juga menyebut, gangguan pihak ketiga juga tercatat di Pengadilan Agama Denpasar sebagai penyebab perceraian pasutri.

Namun di lain hal, ada juga yang mengajukan rujuk dengan pasangan yang telah diputus cerai. Aminudin mengatakan, perkara rujuk yang ditangani Pengadilan Agama Denpasar jumlahnya tidak banyak.

“Ya ada satu, dua pasangan. Setelah mereka bercerai ternyata lebih enak dengan pasangan yang lama karena sudah punya anak,” ujarnya.

Sementara, kasus gugatan cerai terbanyak terjadi di wilayah Kecamatan Denpasar Selatan dan Utara. (Way)