Inilah Sejarah Makam Londo Kerkhof Di Indonesia

    


Makam Kerkhof gaya Eropa - foto: Sanggar Ginaris & Soeracarta Heritage Society

KORANJURI.COM – Sejarah makam Belanda (makam Londo) di Indonesia banyak orang yang tidak mengetahuinya.

Dikutip dari sumber literasi lengkong sanggar Ginaris Soeracarta Heritage Society, makam Belanda di Indonesia di sebut dengan nama Kerkhof. Asal muasal istilah Kerkhof sendiri berasal dari bahasa Belanda, Kerk (gereja) dan Hoff (Halaman), jika diartikan adalah halaman gereja.

Makam Kerkhof Dezentje di Desa Candi, Ampel - foto: Koranjuri.com

Makam Kerkhof Dezentje di Desa Candi, Ampel – foto: Koranjuri.com

Dalam beberapa arsip sejarah disebutkan, makam Belanda juga bisa disebut begraafplaats. Di Indonesia pemakaman Belanda banyak dibangun sebelum abad 19. Namun tradisi pemakaman di halaman gereja diawali sejak abad 7 Masehi. Dengan mempertimbangkan bahwa gereja merupakan tempat suci. Selain itu, kehidupan masyarakat Eropa juga sangat lekat dengan gereja.

Pola penataan makam Kerkhof dilakukan menurut hirarki strata sosial jenasah yang mati. Tradisi ini berakhir karena padatnya penduduk saat memasuki abad 18. Sehingga, berdampak pada tingginya angka kematian yang membuat halaman gereja tak lagi mampu menampung jenasah.

Di awal abad 20, pemerintah kota praja mulai mengambil alih pengelolaan pemakaman. Tata kelola pemakaman tidak lagi mengedepankan keindahan tetapi lebih ditekankan pada keindahan lanskap dan lingkungan alami.

Sebagai penandanya, tata letak Kerkhof di tandai dengan symbol salib. Selain berada di perkotaan, pemakaman Belanda juga banyak di temukan berada di dekat perkebunan, garnisun militer atau pusat pusat penyebaran agama Kristen.

Tata letak pemakaman Kerkhof mempertimbangkan beberapa unsur sehingga tidak menghambat perluasan kota serta dapat diperluas sewaktu-waktu. Diantaranya, lokasi tanah datar, air tidak menggenang, tanah mudah digali, drainase baik serta cukup luas areanya.

Bentuk penguburan dikerjakan dengan cara Aardgraven, ditimbun langsung dengan tanah. Dinding kubur dilapisi dengan bata sehingga membentuk semacam relung. Tujuannya, untuk mencegah tanah agar tidak terkontaminasi oleh jenasah yang terurai.

Pemakaman seperti ini di perkirakan dapat menampung lebih dari satu jenasah. Bentuk penanda makam berupa tugu atau peti mati dengan beberapa gaya arsitektur Eropa, seperti gaya Neo Gothik, Neo Klasik, Art Deco, Hybrid Bel dan lainya.

Batu nisan makam yang terdapat dalam komplek makam Kerkhof menurut para ahli arkeolog, memiliki perbedaan bentuk, ragam hias, bahan, bahasa dan penanggalan yang berbeda dalam satu ruang yang sama. Keberadaan batu nisan menjadikan pemakaman sebagai laboratorium yang membantu arkeolog dalam menganalisa perubahan budaya yang sudah terjadi.

Di dalam batu nisan terdapat beberapa dimensi diantara dimenasi waktu, yang dapat diketahui dari penanggalan yang ada di batu nisan tentang usia dan periodenya. Dimensi ruang, untuk mengetahui kedudukan batu nisan apakah masih berada di tempat asalnya atau sudah di pindah.

Dimensi bentuk, batu nisan dapat menjadi data penyusunan tipologi. Batu Nisan juga menggandung teks dan ikon yang dapat diungkap maknanya melalui pendekatan semiotic.

Beberapa makam Kerkhof biasanya menggunakan bahasa yang menunjuk pada identitas kebangsaan orang yang di makamkan. Selain Belanda, juga Inggris, Jerman, Perancis, Yahudi, Armenia dan Jepang. Namun tak jarang dalam satu nisan memuat dua bahasa. (*)