Inilah Sebabnya, Kenapa Gas Melon Langka di Pasaran

    


Konsumsi gas melon di masyarakat yang tinggi menjelang lebaran, memicu terjadinya kelangkaan gas dan harga yang tinggi - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Menjelang Idul Fitri, masyarakat di sejumlah wilayah Purworejo selalu dihadapkan pada masalah melambungnya harga gas melon di pasaran karena kelangkaannya.

Masyarakat menduga, kelangkaan terjadi karena kurangnya stok dari Pertamina, atau ketidaklancaran distribusi dari agen.

Namun hal itu dibantah keras oleh Panji Pranowo, koordinator agen gas 3 kg wilayah Purworejo. Sulitnya masyarakat mencari gas melon, lebih disebabkan karena meningkatnya jumlah pengguna.

Selain itu, kesadaran masyarakat kelas menengah ke atas yang masih menggunakan gas melon yang diperuntukkan bagi masyarakat kelas bawah, masih rendah.

“Tidak ada pengurangan alokasi elpiji dari Pertamina. Malah ada penambahan selama puasa hingga lebaran,” tandas Panji, Kamis (14/6).

Dijelaskan oleh Panji, total alokasi harian gas melon untuk Kabupaten Purworejo sebanyak 18.500 tabung. Pada bulan Juni ini, Pertamina menambah 8 persen.

Jika dihitung, ungkap Panji, alokasi harian untuk memenuhi kebutuhan secara normal seharusnya mencukupi, apalagi sudah ditambah 8 persen.

“Fakta di lapangan, memang jumlah pengguna gas elpiji 3 Kg ini meningkat drastis karena Purworejo menjadi salah satu kota tujuan mudik,” kata Panji.

Menurutnya, sejumlah antisipasi telah dilakukan agen untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang lebaran. Salah satunya, distribusi tetap dilakukan meski hari libur.

Tanggal 15 dan 16 Juni yang seharusnya libur, kata Panji, pihaknya tidak libur, tapi tetap distribusi. Hanya tanggal 15 saat hari H lebaran, memang libur. Itupun pasokan diganti untuk alokasi hari Minggu yang seharusnya libur.

Antisipasi lainnya, jelas Panji, pihaknya juga sudah sediakan gas non subsidi 5,5 Kg dan 12 Kg. Namun itupun masih kurang. Disimpulkan, tingkat penggunaan elpiji menjelang lebaran ini meningkat drastis.

“Rendahnya kesadaran masyarakat kelas menengah ke atas yang masih menggunakan gas melon juga menjadi pemicu kelangkaan,” terang Panji.

Alokasi untuk warga kelas bawah kian berkurang, ujar Panji, juga dipicu dengan banyaknya pedagang musiman menjelang lebaran yang juga menggunakan gas melon.

Terkait melambungnya harga di tingkat konsumen atau eceran, Panji tindak memungkiri. Bahkan, di sejumlah desa harganya selisih jauh dengan harga eceran tertinggi (HET). Namun, dirinya tak dapat berbuat banyak untuk mengondisikan harga di tingkat pengecer karena bukan wewenangnya.

“Harga dari pangkalan tetap Rp15.500, tidak ada kenaikan. Pengawasan harga agen hanya berwenang sampai pangkalan, untuk tingkat pengecer, bukan wewenang kita,” tandasnya.(Jon)