IMO-Indonesia: Jangan Sebarkan Hoaks Soal Tsunami Selat Sunda

    


Foto: Ilustrasi

KORANJURI.COM – Erupsi anak Gunung Krakatau dan longsoran bawah laut serta gelombang pasang akibat bulan purnama menyebabkan tsunami di Selat Sunda yang menimpa pesisir Pandeglang dan Lampung pada (22/12/2018) malam. BNPB mencatat tsunami mengakibatkan 222 orang meninggal, 843 orang luka-luka dan 28 orang hilang.

Bencana yang terjadi pada hari sabtu kemarin selain menimpa masyarakat sekitar pesisir Banten dan Lampung juga menimpa berbagai kalangan masyarakat dari luar daerah yang sedang melakukan berbagai event menjelang libur panjang dan tahun baru 2019.

IMO-Indonesia turut berduka atas musibah yang menimpa masyarakat Pandeglang dan Lampung dan meminta agar Pemerintah Pusat dan Daerah dapat secara maksimal menangani proses evakuasi korban dan penanganan daerah terdampak.

“Adapun kesimpangsiuran terkait berbagai kalangan dan institusi yang melakukan berbagai aktivitas jelang tahun baru pada daerah terdampak, harus dapat ditangani dengan baik. Sehingga akan memberikan kepastian Informasi kepada masyarakat secara luas,” jelas Ketua Umum IMO-Indonesia Yakub F. Ismail Ketua Umum bersama Sekjen M. Nasir Bin Umar dan Plt Bendahara Umum Jeffry Karangan.

IMO-Indonesia juga menghimbau berbagai kalangan untuk tidak menyampaikan informasi yang belum didapat kepastiannya dan tidak bersumber dari Institusi maupun kalangan yang kompeten serta bertanggung jawab  terhadap informasi yang disampaikan. Apalagi, mengutipnya menjadi sebuah pemberitaan.

Saatnya Indonesia memiliki sarana deteksi dini yang lebih baik terhadap ancaman bencana, duka dipenghujung 2018 ini menjadi tambahan catatan panjang dari  2.426 bencana yang menyebabkan 4.231 orang meninggal & hilang, 6.948 orang luka-luka, 9,9 juta orang mengungsi & terdampak, dan 374.023 unit rumah rusak. (*)