Imigrasi Deportasi 2 Perempuan Tanzania, Terlibat Prostitusi di Bali, Tarif Rp1,5 Juta per Jam

oleh
Imigrasi Ngurah Rai mendeportasi warga asing yang terlibat dalam prostitusi - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Seorang warga asing asal Tanzania berinisial SEK (34) dilaporkan terlibat dalam prostitusi. Dalam pemeriksaan Imigrasi, ia juga overstay.

Kepala Kanwil Kemenkumham Bali Pramella Y. Pasaribu menjelaskan, perempuan asal Tanzania itu mengaku datang ke Bali untuk bertemu kekasihnya.

Namun, penyelidikan tim intelijen menemukan bukti bahwa SEK menggunakan aplikasi Tinder dan WhatsApp untuk menjajakan diri. Ia mematok tarif mulai Rp 1,5 juta per jam.

“Yang bersangkutan sempat mengelak atas bukti tersebut dengan alasan ponsel miliknya sempat digunakan oleh temannya,” kata Pramella di Denpasar, Jumat, 7 Juni 2024.

SEK terciduk oleh pihak Imigrasi bersama seorang kawannya berinisial AFM dalam operasi Jagratara di awal Mei 2024.

AFM mengaku datang ke Indonesia untuk melengkapi dokumen kuliahnya di Malaysia. Ia memilih tinggal di Indonesia karena biaya hidup lebih murah.

Namun, dari penelusuran yang dilakukan, kata Pramella, ada indikasi AFM terlibat dalam prostitusi dengan menjual dirinya melalui media online dan aplikasi kencan, seperti kasus SEK.

“Namun, saat itu pendeportasian belum dapat dilakukan. Keduanya kemudian diserahkan ke Rudenim Denpasar sambil menunggu proses deportasi,” jelas Pramella.

Kedua warga asing asal Tanzania itu dideportasi pada 5 Juni 2024 dengan tujuan akhir Zanzibar, Tanzania.

Sementara, Imigrasi Ngurah Rai juga mendeportasi warga asing asal Denmark berinisial DO (56), pada Selasa (4/5/2024). DO tercatat overstay selama 10 bulan di Indonesia.

“Dia (DO) diamankan saat akan meninggalkan Indonesia ke Denmark via Singapura melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai pada 15 Mei 2024. Petugas imigrasi mendapati bahwa ia telah overstay selama 10 bulan lebih,” jelas Pramella. (Way)

KORANJURI.com di Google News