IHDN Bakal Dirintis Jadi Kampus Kerukunan Pertama di Nusantara

    


Penghargaan Maha Widya Award kepada 3 orang tokoh yang konsisten mendukung pendidikan Hindu di Bali pada Dies Natalis XIII kampus Institut Hindu Darma Negeri (IHDN) Denpasar, Rabu, 8 November 2017 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kampus Institut Hindu Darma Nasional (IHDN) Denpasar diupayakan menjadi percontohan Kampus Kerukunan di Indonesia. Rektor Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, melihat gejolak sosial yang terjadi di masyarakat memungkinkan berpengaruh terhadap aktifitas di kampus.

Selama ini, kata Sudiana, ia melihat belum ada pendidikan tinggi yang menginisiasi menjadi kampus kerukunan.

“Ini yang kita harapkan terjadi di kampus IHDN. Kerukunan harus diupayakan,” jelas Ngurah Sudiana pada Dies Natalis IHDN Ke-13, Rabu, 8 November 2017.

Kampus kerukunan diharapkan mampu meredam potensi konflik antar mahasiswa maupun persaingan tak sehat antar lembaga. Selain itu, Ngurah Sudiana menyatakan keprihatinannya jika selama ini muncul tudingan aktifitas kampus dekat dengan kegiatan radikal.

“Kita harus mulai dari kampus, karena kampus banyak dicurigai sebagai tempat atau ada mahasiswa yang ikut organisasi radikal tertentu,” jelas Gusti Ngurah Sudiana.

Pada Dies Natalis Ke-13 Institut Hindu Darma Negeri (IHDN) diberikan penghargaan Maha Widya Award kepada 3 orang tokoh yang konsisten mendukung pendidikan Hindu di Bali.

Penghargaan diberikan kepada Tjokorda Sukawati, Ida Pandita Mpu Sinuhun Siwa Putra Prama Daksa Manuaba dan Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari. Ketiga tokoh tersebut, menurut Gusti Ngurah Sudiana memiliki komitmen tinggi dalam pengembangan ilmubagama maupun budaya Hindu.

IHDN dibesut untuk menghasilkan generasi muda Hindu yang berkarakter dan berakhlak mulia. Rektor Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., juga mengatakan di masa kepemimpinannya IHDN bakal jadi kampus yang ‘ramah’ dengan wartawan.

Pihaknya mengagendakan bakal rutin menggelar ‘coffee morning’ bareng wartawan. Hal itu untuk menampung masukan dan kritikan untuk pengembangan kampus kedepannya.

Ngurah Sudiana menjelaskan, pendidikan tinggi yang kini dipimpinnya tidak akan menutup diri dari publikasi. Karena menurutnya, disitulah letak tanggungjawab sosial institusi kepada masyarakat.

“Mitra kerja kami untuk mensosialisasikan program adalah media. Jadi kami akan terus bekerjasama dengan media,” jelas Ngurah Sudiana. (Way)