Ibu Pramugari Mia Tresetyani Wadu: Saya Bangga, Anak Ini Terlalu Baik

    


Mia Tresetyani Wadu (23), pramugari penerbangan Sriwijaya Air SJ-182 bersama sangat ayah Zet Wadu - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Keluarga pramugari penerbangan Sriwijaya Air SJ-182 Mia Tresetyani Wadu (23), masih berharap putrinya mendapatkan mujizat keselamatan. Namun, Ni Luh Sudarmi (61), sang ibunda mengaku tetap berserah dengan apapun kondisi yang menimpa putri kesayangannya.

Sudarmi mengatakan, pertemuan terakhir dengan putrinya terjadi sebelum natal, pada bulan September 2020. Ia berharap Mia pulang kembali di bulan Desember untuk merayakan natal bersama.

“Natal tidak bisa pulang, karena anaknya takut dites swab. Selain itu, kan dari Tangerang ke sini biayanya sangat mahal, anak itu sangat irit, jadi terakhir ketemu bulan September kemarin,” kata Ni Luh Sudarmi di kediamannya di Jalan Tukad Gangga, Denpasar, Minggu (10/1/2021).

Kegiatan doa di rumah keluarga pramugari Sriwijaya Air penerbangan SJ-182 Mia Tresetyani Wadu (23) yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Sabtu (9/1/2021) - foto: Koranjuri.com

Kegiatan doa di rumah keluarga pramugari Sriwijaya Air penerbangan SJ-182 Mia Tresetyani Wadu (23) yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Sabtu (9/1/2021) – foto: Koranjuri.com

Perempuan asal Singaraja itu menuturkan, Mia Tresetyani Wadu sudah 3 tahun bekerja di maskapai swasta nasional itu. Ia melihat, putrinya itu adalah perempuan hebat, suka menolong dan rajin berdoa.

“Dia sangat berbakti kepada kedua orangnya dan tipe pekerja keras,” ujarnya.

Melihat karakter putrinya itu, Ni Luh Sudarmi memberikan jaminan seribu berbanding satu, ada anak perempuan seperti Mia. Sudarmi bercerita, kepada teman-temannya yang mencari kerja di Jakarta pun, Mia rela memberikan tumpangan di tempat kosnya.

“Bahkan, sampai yang dibantu dapat kerja dan terima gaji dia akan tampung di kosnya. Saya bangga dengan anak saya, kemanapun dia pergi jadi omongan, anak ini terlalu baik,” cerita Ni Luh Sudarmi.

Sementara, sang ayah Zet Wadu mengaku tidak memiliki firasat apapun sebelum kejadian. Pria paro baya ini terakhir kontak dengan anaknya satu jam sebelum pesawat dikabarkan gagal sampai di tujuan.

“Keluarga berharap, kepada tim SAR agar semua korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 segera bisa ditemukan dalam kondisi apapun,” kata Zet Wadu. (Way)