Hebat, Siswa SMKN 1 Purworejo Sabet Medali Emas di LKS Nasional

oleh
Ahmad Muntoyib, peraih medali emas LKS tingkat nasional mata lomba Prototype Modelling bersama Kepala SMKN 1 Purworejo Dra. Indriati Agung Rahayu, M.Pd., dan pembimbing LKS Firman Hidayat, S.Pd. - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Duta dari Jawa Tengah yang diwakili Kabupaten Purworejo kembali meraih prestasi dalam LKS (Lomba Kompetensi Siswa) SMK tahun 2023 tingkat Nasional pada mata lomba Prototype Modelling.

Ahmad Muntoyib, siswa kelas XII Teknik Pemesinan SMKN 1 Purworejo, berhasil meraih medali emas pada LKS tingkat nasional yang berlangsung di SMKN 5 Surabaya, dari tanggal 23-28 Oktober 2023.

Dra. Indriati Agung Rahayu, M.Pd., selaku Kepala SMKN 1 Purworejo merasa bangga dengan prestasi anak didiknya itu.

Indri yang didampingi Firman Hidayat, S.Pd., pembimbing LKS dan Margodoyo, S.Pd., Waka Humas menjelaskan, meski sudah meraih emas di LKS tingkat nasional, namun belum ada kepastian, apakah Toyib ini mewakili Indonesia di WSC (World Skill Competition) tahun 2024 di Perancis untuk mata lomba Prototype Modelling atau tidak.

“Kita nunggu kabar. Namun ada pengarahan untuk mempertahankan ketrampilannya. Jadi seandainya nanti siswa kita yang dipilih sudah siap,” kata Indri.

Dengan prestasi ini, ujar Indri, meski di tengah ‘keprihatinan’, pihaknya tetap berupaya untuk memberi yang terbaik bagi siswa. Dan Alhamdulillah siswa dan para guru memahami kondisi ini.

Untuk mempertahankan kondisi ketrampilannya, ungkap Indri, dengan tetap rutin latihan, diantaranya pada pelajaran-pelajaran praktek serta menjaga kondis fisik agar selalu fit. Latihan akan kembali dilakukan lebih intensif lagi jika memang Toyib yang nantinya terpilih mewakili Indonesia dalam WSC.

Kondisi fisik, jelas Indri, sempat melemah di Surabaya karena suhu di sana lebih panas, serta suasana perlombaan yang tidak hanya mempertandingkan Prototype Modelling saja, sehingga menguras tenaga

Mempertahankan kondisi fisik agar selalu fit ini, menurut Indri, tidak hanya untuk menghadapi LKS saja, tapi juga saat rekrutmen ataupun memasuki sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

“Saat menghadapi LKS nasional, dari jurusan pemesinan sudah membentuk tim yang solid, termasuk ada perencanaan pelatihan, baik fisik, teknis ataupun mental, termasuk alat dan bahan,” terang Indri.

Firman menambahkan, pada LKS
tingkat nasional, test projectnya membuat prototype Quadcopter Drone (Prototype Model dari Drone 4 Propeler atau 4 baling-baling).

Sistem penilaian mengacu pada 5 modul yang ada dalam perlombaan, Modul A adalah tentang sikap kerja dengan bobot 5 poin, Modul B adalah Redesain 3D Modeling 10 poin, Modul C adalah Redesain 2D Drawing 10 poin, Modul D adalah Manufacturing 70 poin, dan modul E adalah tampilan produk modeling 5 poin.

“Total ada 100 poin dalam penilaian perlombaan,” ungkap Firman.

Meski belum ada kepastian, Toyib, anak pertama pasangan Warjianto-Sumarah warga Tlogoguwo, Kaligesing ini mengaku siap, apakah nanti diikutsertakan di WSC atau tidak. Seandainya bukan dia yang terpilih, Toyib mengaku siap dan legowo. (Jon)

Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS

KORANJURI.com di Google News