Hari Jadi Purworejo 90% Benar, Jumenengan 60% Baik

    


Ki Samar - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Acara Jumenengan RAA Tjokronegoro yang keempat kalinya digelar pada Sabtu 27 Februari 2016 lalu, di Pendopo Kabupaten Purworejo, mendapat tanggapan dan kritik dari seseorang yang bernama Bb. Kritik tersebut, dimuat di Koran Hukum edisi 16 – 20 Maret 2016.

Hal ini, ditanggapi secara serius oleh Ki Samar (50), tokoh spiritual yang ikut membidangi lahirnya acara jumenengan di tahun 2012. Pada koranjuri.com, Ki Samar mengatakan, bahwa dari pantauannya, tanggapan maupun kritikan yang dikeluarkan Bb tersebut hanya akan memicu kontroversi, karena isinya ‘lari kemana-mana’ tanpa pendalaman materi.

“Yang perlu diluruskan, bahwa tokoh-tokoh penulis sejarah terkait, seperti Pater Carey, Amin Budiman, P. Purwantoro, Tjokrodimurti, Panji Yudhistira, Atas DS, dan lain-lain, bahwa apa yang mereka tulis atau dalami tidak keliru,” ujar Ki Samar.

Ki Samar berpendapat secara netral, jika diurutkan peristiwa sejarahnya, tanggal 8 atau 9 Juni 1830, KRT Tjokrodjoyo dari Bupati Tanggung diangkat sebagai Bupati Brengkelan di Kedungkebo oleh Kraton Solo.

SK dari pemerintah Belanda turun 18 Desember 1830, sedang penobatan rsemi tanggal 27 Februari 1831. Saat itu Brengkelan diubah menjadi Purworejo, sehingga SK Belanda berubah lagi turun 22 Agustus 1831. Sedangkan SK Belanda bersama untuk beberapa kabupaten sekaligus turun 17 November 1838.

“Era tahun 1800 an, negara terkait yang ada hanya Kraton Solo, Kraton Jogja, dan Kerajaan Belanda. NKRI belum ada sama sekali,” jelas Ki Samar.

Pangeran Diponegoro sendiri ingin mendirikan kerajaan baru, berperang melawan Kraton Jogja dan Belanda. R. Ng Resodiwiryo sendiri, merupakan abdi dalem Kraton Solo. Jadi jangan dibandingkan putra raja dan rakyat. Kelasnya lain.

Persoalan Hari Jadi Kabupaten Purworejo yang sudah ditetapkan Pemda, sudah cukup benar. Memang, ‘tanah Purworejo sebelumnya’ jauh lebih tua dari Kraton Solo atau Kraton Jogja, bahkan sebelum Belanda masuk ke Jawa.

Pandangan khusus Ki Samar, bahwa KH R Taftozani, merupakan guru spiritual P. Diponegoro dan RAA Tjokronegoro. Mereka bertiga punya kesepakatan rahasia, dan masing-masing berbagi tugas suci dan punya peran sendiri-sendiri. Ini dimungkinkan, karena tanah Purworejo/Bagelen kuno sebenarnya merupakan pusat budaya dan spiritual Jawa.

“Membuka tabir fenomena alam yang luar biasa ini, adalah tugas generasi sekarang,” pungkas Ki Samar.
 
 
jon