Harga Masker Naik, Lantas Jenis Apa yang Cocok Menyaring Partikel Udara?

    


Foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Virus corona covid-19 menyebabkan masker langka di pasaran. Bahkan di Bali harga satu pack masker berisi 50 lembar, dikabarkan melambung hingga 10 kali lipat dari harga normal Rp 30 ribu per pack.

Lantas, masker jenis apa yang standar untuk menahan ‘serangan’ virus corona?

Direktur Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM), dr. Bagus Darmayasa mengatakan, pemakaian masker merupakan salah satu upaya yang sangat efektif untuk mencegah penyebaran penyakit menular.

Dalam dunia kesehatan, jelasnya, ada dua macam jenis masker yang umum di gunakan yakni, masker biasa dan respirator N95.

“Masker biasa atau yang dikenal dengan nama masker bedah surgical mask yang sudah biasa digunakan masyarakat umum,” ujarnya.

Biasanya, masker ini memiliki bagian luar berwarna hijau muda dan bagian dalamnya berwarna putih serta memiliki tali berupa karet untuk memudahkan terpasang ke bagian belakang kepala atau telinga.

Namun, kata Bagus Darmayasa, masker ini tidak didesain untuk menyaring partikel dan mikroorganisme yang berukuran sangat kecil, termasuk virus influenza maupun bakteri.

“Sedangkan masker untuk berinteraksi dengan orang sakit disebut N95 karena dapat menyaring hingga 95% dari keseluruhan partikel yang berada di udara,” jelasnya.

Bentuk masker ini, biasanya setengah bulat dan berwarna putih, terbuat dari bahan solid dan tidak mudah rusak. Pemakaiannya juga harus benar-benar rapat, sehingga tidak ada celah bagi udara luar masuk.

“Masker ini biasanya dipergunakan oleh tenaga kesehatan di bagian infeksi dan menular,” kata Bagus Darmayasa.

Hanya saja, ia melanjutkan, masker N95 ini memiliki kekurangan antara lain bagi yang tidak terbiasa menggunakan, mungkin akan merasa gerah dan sesak sehingga hanya bertahan beberapa jam saja memakainya.

Bali saat ini mulai membuka informasi terkait pasien suspect virus corona. Kesiapsiagaan dilakukan secara maksimal, termasuk penyiapan rumah sakit untuk menampung kemungkinan adanya pasien yang harus dirujuk.

“Kalau dibutuhkan, kami sudah membuat skenario menutup satu rumah sakit yang khusus menampung pasien yang terindikasi covid-19,” kata Wagub Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Selasa, 3 Maret 2020. (Way)