Gubernur Melantik Kepala Daerah Hasil Pilkada Serentak di Bali

    


Gubernur Bali, I made Mangku Pastika melantik Kepala Daerah hasil Pilkada Serentak di Bali, 17 Februari 2016 - foto: Wahyu Siswadi/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kepala daerah hasil Pilkada serentak di enam Kabupaten/Kota di Bali dilantik secara bersamaan oleh Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, 17 Februari 2016. Pelantikan berlangsung di ruang Wiswa Sabha, Kantor Gubernur Bali kawasan Nitimandala Renon, Denpasar.

Enam pasangan yang dilantik masing-masing I Nyoman Giri Prasta-I Ketut Suiasa, Bupati-Wakil Bupati Badung, Ni Putu Eka Wiryastuti-I Komang Gede Sanjaya, Bupati-Wakil Bupati Tabanan, I Putu Artha-I Made Kembang Hartawan, Bupati-Wakil Bupati Jembrana, I Made Gianyar-Sang Nyoman Sedana Arta, Bupati-Wakil Bupati Bangli, I Gusti Ayu Mas Sumatri-I Wayan Arta Dipa, Bupati-Wakil Bupati Karangasem, dan IB Rai Dharmawijaya Mantra-IGN Jaya Negara, Wali Kota-Wakil Wali Kota Denpasar.

Dari enam pasangan kepala daerah itu empat diantaranya merupakan petahana. Sedangkan pasangan I Nyoman Giri Prasta-I Ketut Suiasa, Bupati-Wakil Bupati Badung dan Gusti Ayu Mas Sumatri-I Wayan Arta Dipa, Bupati-Wakil Bupati Karangasem, pertama kali dilantik sebagai kepala daerah.

Gubernur Bali menyebut, pelantikan kepala daerah secara serentak menjadi sejarah baru.“Saya sampaikan apresiasi tinggi kepada penyelenggara pemilu atas suksesnya menyelenggarakan kompetisi politik lokal,” kata Mangku Pastika, Rabu, 17 Februari 2016.

Gubernur mengingkatkan kepada kepala daerah yang baru untuk segera beradaptasi dengan memahami tugas fungsi, pokok perundangan. Kerjasama dengan provinsi dibutuhkan untuk percepatan pembangunan.

“Jabatan yang diemban adalah tanggungjawab untuk mensejahterakan rakyat,” ujar Mangku Pastika.

Pastika memberikan kritikan, selama ini program pembangunan masih berjalan timpang. Menurutnya, tidak ada keselarasan diantara lingkar pemerintahan. Pola yang berubah seperti sekarang, dikatakan Pastika, mempunyai arti kesatuan. Program pemerintah tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Kenapa Gubernur dilantik di Istana Negara, Bupati yang melantik Gubernur. Ini menunjukkan satu kesatuan yang tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” ucap Pastika.
 
 
way