Gubernur: Bali Sakral Sebab Warisan Leluhur yang Terpelihara

    


Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri Karya Ngaturang Pekelem Penegteg Gumi Pura Luhur Gunung Agung di Pura Sad Khayangan Desa, Pura Pasar Agung, Desa Adat Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Rabu (2/9/2020) - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan kembali komitmennya memperkuat dan memperkokoh adat istiadat, budaya serta kearifan lokal Bali.

Disebutkan, Bali yang kecil secara wilayah punya aura sakral dan taksu dengan sisi spiritual kuat yang membuatnya dicintai masyarakat dunia.

Koster mengatakan, warisan leluhur ini harus dijaga dari nilai-nilai budaya luar yang merusak.

“Sekarang saya proteksi. Saya harus jaga dan bentengi. Kalau sampai rusak, maka kita di Bali akan berbahaya. Bisa dikutuk leluhur dan Ida Bhatara,” kata Koster.

Gubernur menghadiri Karya Ngaturang Pekelem Penegteg Gumi Pura Luhur Gunung Agung di Pura Sad Khayangan Desa, Pura Pasar Agung, Desa Adat Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Rabu (2/9/2020).

Menjaga taksu alam Bali menjadi perhatian besar kepemimpinannya lewat 40 peraturan yang disusun. Perda dan Pergub yang telah diterbitkan akan menjadi dasar pembangunan di Bali. Peraturan itu sebagai penguatan adat istiadat dan kearifan lokal melalui penguatan desa adat.

“Contoh lain, saya merancang perlindungan kawasan suci Besakih. Ditata agar rapi dan indah dengan nilai pembangunan total Rp 900 miliar,” kata Gubernur.

“Besakih itu hanya ada satu di dunia, leluhur kita sudah merancang dengan luar biasa. Kita sekarang sebagai penerus harus bisa merawat,” tambahnya.

Pada upacara di pura yang terletak di kaki Gunung Agung tersebut, dihadiri oleh mantan Bupati Karangasem Wayan Geredeg, Wakil Bupati Karangasem Wayan Artha Dipa serta Ketua DPRD Karangasem Gede Dana. (Way/*)