Gedung Baru Tandai Pencapaian 2 Dasawarsa SMK Trigriska

    


Kepala SMK PGRI 3 Denpasar Drs. Nengah Madiadnyana, MM - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – SMK PGRI 3 Denpasar merayakan acara puncak HUT ke-20 di gedung baru sekolah kejuruan pariwisata tersebut, Senin, 27 Januari 2020. Dua dasawarsa telah dilalui. Banyak cerita dan pengalaman dalam mengelola sebuah lembaga pendidikan.

Tidak mudah mengelola institusi pendidikan hingga berkembang besar seperti sekarang. Hal itu disampaikan Kepala SMK PGRI 3 Denpasar, Drs. Nengah Madiadnyana, MM. Di awal berdiri, sekolah yang dikenal dengan sebutan Trigriska ini menumpang di SMIP PGRI (sekarang SMK PGRI 1) Badung selama 4 tahun.

Setelah dari SMIP Badung, Trigriska bergabung dalam satu gedung bersama SMK Negeri 4 Denpasar. Dengan perkembangan yang pesat, jumlah siswa semakin bertambah banyak.

“Lagipula, saat itu ada aturan tidak boleh ada sekolah menumpang di sekolah negeri. Terpaksa, kami mencari lahan baru untuk sekolah kami,” jelas Madiadnyana, Senin, 27 Januari 2020.

20 tahun lalu, atau tepatnya pada 24 Januari 2000, SMK PGRI 3 Denpasar mengantongi ijin operasional. Madiadnyana menyatakan, sekolah pariwisata faforit di Denpasar itu, berkembang karena kerja keras semua pihak.

“Hasil ini bisa diraih karena kerja keras semua pihak dalam membesarkan sekolah, seluruh management dari bawah sampai atas, semuanya bekerja,” ujarnya demikian.

Saat ini, SMK PGRI 3 Denpasar memiliki tiga gedung untuk menunjang proses belajar mengajar. Gedung baru telah selesai dibangun dan diresmikan Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra melalui upacara Melaspas pada 23 Januari 2020.

“Sekolah ini tidak langsung besar, tapi terus dibangun agar berkembang. Saya punya filsafat orang naik sepeda. Selama dikayuh maka selama itu pula akan berjalan,” kata kasek yang juga ketua YPLP PGRI Kota Denpasar ini.

Membangun pendidikan bukan hanya membangun fisik semata. Namun juga membangun karakter pendidikan yang dikembangkan di SMK Trigriska. Menurut Madiadnyana, tamatan yang ada seluruhnya terserap di dunia kerja.

Bahkan sebelum mereka lulus, Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) di Bali banyak melakukan perekrutan SDM di SMK Trigriska.

“Kalau pun ada yang belum mendapatkan kerja, itu disebabkan, pekerjaan yang ditawarkan tidak sesuai dengan keinginan. Tapi mereka umumnya melakukan kegiatan enterpreuner atau bekerja secara mandiri,” terangnya.

Selain itu, tantangan terbesar dalam mengelola institusi pendidikan saat ini adalah perkembangan teknologi yang sedemikian cepat dan harus mendapatkan respons. Madiadnyana mengatakan, perubahan bisa berlangsung sangat cepat di era RI/RT 4.0.

“Kita harus mampu menjawab tantangan yang ada,” ujarnya. (Way)