Garuda Merah di Kartu Debit, Program BI Menjaga Devisa Negara

    


Seminar Nasional BI, Komisi XI DPR RI dan kampus ITB STIKOM Bali, Rabu, 14 Agustus 2019 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Jika Amerika Serikat punya Visa dan Master Card, Indonesia sekarang juga punya kartu sejenis yang disebut Gerbang Pembayaran Nasional (GPN).

GPN merupakan kartu transaksi antar bank. Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Bali, Trisno Nugroho menjelaskan, semua bank di Indonesia melakukan program nasional yang dilaunching BI tersebut.

“GPN berloga gambar garuda di kartu debit dan dikeluarkan oleh semua bank. Bagi yang belum GPN silakan minta ke bank masing-masing, gratis,” kata Trisno Nugroho saat Seminar Nasional BI di kampus ITB STIKOM Bali, Rabu, 14 Agustus 2019.

Program GPN mulai dirilis pada 2018 lalu. Namun, menurut Trisno Nugroho, program itu perlu disosialisasikan secara masif ke masyarakat. Pihaknya juga berharap, dengan seminar nasional bertema ‘Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) Dalam Sistem Perbankan Nasional’ ini, akan diikuti oleh warga kampus di ITB Stikom Bali.

Sementara, Anggota Komisi XI Gusti Agung Rai Wirajaya yang hadir dalam seminar itu mengatakan, program GPN ini untuk menjaga peredaran rupiah di dalam negeri. Sehingga, potensi negara kehilangan devisa karena transaksi perbankan dapat diminimalisir.

Rai Wira Jaya menambahkan, jika melakukan transaksi perbankan menggunakan produk bank luar negeri, secara otomatis, rute transaksi harus melalui sistem bank negara lain.

“Ini berpotensi menghilangkan devisa negara. Karena itulah, GPN ini sebuah kemajuan, daripada kita membawa debit tapi ada Master atau Visa-nya, berarti dana kita ke luar negeri,” jelas Wirajaya.

Logo GPN bertanda Garuda Merah di kartu debit, dijelaskan Wirajaya, menunjukkan uang yang beredar masih berada di dalam negeri.

Indonesia dengan penduduk lebih dari 260 juta jiwa, menjadi pasar yang menjanjikan bagi produk perbankan asing dalam memasarkan produknya. GPN sendiri merupakan sistem transaksi melalui mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) atau perangkat Electronic Data Capture (EDC) di semua bank.

“Saya bangga dengan BI yang membuat sistem transaksi dalam satu wadah dan terintegrasi antar bank,” kata Rai Wirajaya.

Ketua Yayasan Widya Dharma Santi Ida Bagus Dharmadyaksa menambahkan, seminar nasional kerja bareng Bank Indonesia dan Komisi XI DPR RI ini, memberikan inspirasi bagi ITB STIKOM Bali dalam melahirkan karya teknologi berbasis perbankan.

“Seminar ini membuka wawasan kita untuk melahirkan karya-karya teknologi di bidang Perbankan,” kata Dharmadyaksa. (Way)