Gagal Bayar Hutang Sebab Hardys Grup Dipailitkan

    


I Gede Agus Hardyawan sebagai pemilik PT Hardys Retailindo menggelar konferensi pers menyusul keputusan pailit manajemen perusahaan ritel yang telah 20 tahun eksis di Bali dan Jawa Timur – foto: Wahyu Siswadi/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – PT Hardys Retailindo telah dipailitkan melalui voting dari para kreditur di pengadilan negeri Surabaya.

Pada tanggal 9 November 2017, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya memutus Perkara Penundaan Pembayaran Utang (PKPU) Grup Hardys Holding dan Hardys Retailindo. Ritel moderen di Bali itu dinyatakan pailit melalui putusan PKPU tertanggal 25 September 2017.

I Gede Agus Hardyawan sebagai pemilik PT Hardys Retailindo gagal membayar hutang yang telah jatuh tempo kepada para kreditur. Menggelar jumpa pers di kantor Hardys Corp yang sekaligus kediaman pribadinya di Perumahan Bypass Garden, Sanur, Agus Hardyawan menjelaskan, di tingkat internal, Hardys terlalu ekspansif mengembangkan outlet.

Saat ini, Hardys memiliki 12 lahan yang luasannya mencapai 5 hektar hingga 14 hektar di setiap lokasinya. Namun prediksi itu mengejar Initial Public Offering (IPO) Hardys Retail di tahun 2020 akhirnya kandas. Lahan yang dibeli itu mangkrak. Sedianya, di lokasi tanah yang dibeli akan dikembangkan menjadi pusat poperti sekaligus ritail moderen yang diberi nama Hardys Land.

“Namun belum sempat berkembang, keburu properti anjlok,” ujarnya didampingi sang istri Ketut Rukmini Hardy, Rabu, 22 November 2017.

70 persen pembiayaan bisnis Grup Hardys bersumber dari dana bank dengan 50 bank kreditur dan kreditur koorporat, yakni vendor maupun suplier. Agus Hardy baru menyadari bahwa proporsi investasi seperti itu sangat berbahaya. Sedikit saja salah dalam perhitungan pasti akan gagal bayar seperti yang dialaminya saat ini.

Asset Hardys yang tersisa saat ini senilai Rp 4,1 trilyun dengan tanggungan hutang Rp 2,3 trilyun. 13 outlet telah diakuisisi oleh PT Arta Sedana Propertindo pada Desember 2016.

“Kejadian ini akan sangat memberikan pelajaran berharga buat kami secara pribadi, keluarga maupun manajemen perusahaan,” ujarnya.

Faktor eksternal disebutnya, juga ikut mempengaruhi menurunnya kinerja perjalanan bisnis ritel yang telah 20 tahun dibangunnya. Diantaranya, Agus Hardy menyebut, bisnis ritel online semakin berkembang, perubahan gaya hidup dari belanja menjadi jalan-jalan dan tingkat ekonomi yang mengalami penurunan global.

Dalam 5 tahun kedepan, ia berencana menggarap pasar online dengan merancang bisnis e-grocery. Yang disadari oleh Agus Hardy saat ini, ia terlalu sibuk dengan mengembangkan bisnis offline. Sementara, persaingan yang ada sekarang justru telah merambah bisnis online.

“Terjungkal karena tidak fokus menggarap pasar online,” ujar Agus Hardy. (Way)