Figur-figur yang Konsisten pada Pendidikan Karakter Usia Dini

    


Pemerintah memberikan penghargaan kepada 9 Bunda PAUD di tingkat provinsi dan 23 Bunda PAUD Kabupaten/Kota - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Peraturan Pemerintah Nomor 2/2018 tentang Standar Pelayanan Minimal mewajibkan, PAUD Pra-Pendidikan Dasar bagi anak usia 5 dan 6 tahun sebagai salah satu layanan minimal pendidikan yang wajib disediakan oleh Pemerintah Daerah mulai 1 Januari 2019.

Pendidikan karakter perlu ditekankan sejak anak usia dini. Peran tersebut lekat dengan para pendidik di tingkat PAUD. Disitu, anak-anak akan beradaptasi dan membekali diri mereka dengan karakter, pengetahuan maupun ketrampilan.

Mendorong partisipasi pemerintah daerah dalam menyiapkan generasi penerus, pemerintah memberikan penghargaan kepada 9 Bunda PAUD di tingkat provinsi dan 23 Bunda PAUD Kabupaten/Kota.

Penghargaan diserahkan oleh Wury Estu Handayani Ma’ruf Amin, mewakili Ibu Negara, Iriana Joko Widodo, selaku Bunda PAUD Nasional, di Kartika Expo Center, Balai Kartini (18/11/2019).

“Pendidikan sejak dini sangat berbekas sampai anak memasuki usia dewasa. Oleh karena itu, peran Bunda PAUD sangat penting sekali dalam proses penanaman karakter unggul dalam proses pendidikan anak usia dini,” kata Wury.

6 Bunda PAUD di tingkat Provinsi masing-masing, Dr. Ir. Dyah Erti Idawati, MT dari Provinsi Aceh, Hj. Melati Erzaldi, SH dari Provinsi Bangka Belitung, Hj. Raudatul Jannah Sahbirin, SKM., M.Kes., dari Provinsi Kalimantan Selatan, Ir. Hj. Rita Ratina, MP., dari Provinsi Kalimantan Utara, Hj. Niken Saptarini Widyawati, SE., MSc., dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Ir. Liestiaty Fachrudin, M.Fish., dari Provinsi Sulawesi Selatan.

Sedangkan di tingkat Kabupaten/Kota, salah satunya diraih oleh Kabupaten Badung, Bali yakni, Ni Kadek Seniasih, S.Sos.

“Intervensi yang dapat dilakukan di tingkat daerah antara lain penguatan kebijakan PAUD yang berpusat pada anak, peningkatan kualitas PAUD usia 0-3 tahun dan 3-6 tahun melalui integrasi layanan kesehatan, gizi, dan perlindungan anak,” kata Wury.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim memberikan kritisi, institusi PAUD seringkali hanya dipandang sebagai tempat penitipan anak. Padahal, menurut Makarim, konsep bermain dan belajar sebagai cara mengenalkan anak bagaimana cara berkolaborasi maupun cara menemukan kreativitas.

“Mereka jadi cinta sekolah, cinta belajar. Jadi yang penting itu bukan cepat ngitung, cepat nulis atau cepat membaca, tapi kesenangan anak itu sendiri, mau berpartisipasi di dalam aktifitas sekolah,” kata Nadiem.

Menurut Mendikbud, pemerintah pusat, daerah, orangtua dan masyarakat, harus turut mensukseskan program-program PAUD.

“Saya benar-benar percaya kepada masyarakat luas untuk mengambil tanggung jawab pendidikan. Karena mereka yang lebih dekat dengan masyarakat. Saya senang sekali melihat masyarakat yang mengambil tanggung jawab ini dan menjalankannya dengan baik seperti Bunda PAUD. Ini saya salut sekali,” kata Mendikbud. (*/Way)