Embung di Pangandaran Mulai Dimanfaatkan

    


Foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Pembangunan Embung yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Kabupaten Pangandaran telah rampung dan mulai dimanfaatkan.

Sebelumnya, KKP membangun embung seluas 4,1 hektar tersebut untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat melalui pola perikanan berbasis budidaya, konservasi dan penampungan air untuk mitigasi bencana terutama banjir dan kegiatan pariwisata.

Embung sendiri merupakan bangunan konservasi air berbentuk kolam untuk
menampung air hujan dan air limpasan serta sumber air lainnya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, keberadaan embung di Pangandaran sangat strategis. Menurutnya, ada 3 aspek penting yakni ekonomi, lingkungan dan estetika.

Keberadaan embung dimaksudkan untuk menambah pendapatan masyarakat melalui kegiatan perikanan berbasis budidaya dan berfungsi untuk penampung air dan pengendali banjir. Disamping itu sebagai kawasan wisata nasional, keberadaan embung di Pangandaran diharapkan dapat menambah daya tarik wisatawan.

“Saya optimis keberadaan embung ini akan mampu memberikan multiplier effect, khususnya, bagi masyarakat dan kepentingan daerah. Apalagi, Pangandaran ini kan sebagai kawasan strategis pariwisata di Jawa Barat bahkan nasional,” jelas Slamet Soebjakto.

Pemanfaatan melalui konsep perikanan berbasis budidaya diharapkan akan mampu menambah peluang pekerjaan dan pendapatan masyarakat. KKP melakukan penebaran benih ikan tahap awal sebanyak 70.000 ekor, masing-masing ikan nila 50.000 ekor dan bandeng sebanyak 20.000 ekor.

Pemilihan kedua jenis ikan tersebut memiliki karakteristik cepat tumbuh dan berkembang secara alami. Dengan begitu, masyarakat bisa memanfaatkannya secara periodik dalam batasan tertentu.

Terkait pengelolaan embung tersebut, KKP menunjuk Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi sebagai penanggungjawab operasional.

“Pola perikanan berbasis budidaya yang akan diterapkan ini bisa jadi model untuk daerah lain. Utamanya, sebagai jalan keluar dalam mengantisipasi polemik permasalahan perairan umum yang berkaitan dengan lingkungan,” jelasnya demikian.

Konsep ini merupakan kegiatan perikanan dengan mengandalkan komoditas hasil budidaya yang ditebar dan dipanen secara periodik di perairan umum daratan. Konsep ini dinilai sangat efektif sebagai model penerapan budidaya berbasis ekosistem.
(*)