Eks Lokalisasi Gunung Tugel, Pelanggan: Tarif Rp 50 Ribuan

    


Bedeng-bedeng yang sebelumnya berdiri di eks lokalisasi Gunung Tugel - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pengakuan itu muncul dari pelanggan eks lokalisasi Gunung Tugel yang kini sudah dibongkar pemerintah, Rabu 10 Februari 2016 kemarin. Lokalisasi yang berdiri sejak tahun 1970-an itu berada di lingkungan Girirejo, Kelurahan/Kecamatan Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah.

Tarif para PSK penghuni Gunung Tugel yang murah dan terjangkau, menjadikan lokalisasi ini selalu ramai. Ya, lokalisasi yang sudah melegenda dan menjadi ‘ikon’ Kutoarjo ini, memang menjadi surga dunia bagi laki-laki hidung belang.

Meski kini lokalisasi Gunung Tugel sudah rata dengan tanah, namun bagi sebagian orang, terutama para lelaki hidung belang yang suka melakukan petualangan seks, Gunung Tugel menyisakan berjuta kenangan.

Dengar saja pengakuan laki-laki yang mengaku bernama Bambang (50) ini. Bambang yang hanya pekerja serabutan asal Kebumen ini mengaku, jika pikirannya sedang stress, dia sering menghabiskan waktunya di Gunung Tugel.

“Tarifnya terjangkau. Jika baru dan masih kinyis-kinyis, bisa sampai Rp 200 ribu untuk short time. Tapi rata-rata Rp 50 ribuan,” jelas Bambang, dalam suatu kesempatan perbincangan pada Koranjuri.com.

Para PSK Gunung Tugel bisa dibawa keluar ke hotel-hotel kelas melati yang banyak bertebaran di Kutoarjo. Tapi umumnya, agar ngirit biaya, ‘bermainnya’ di tempat itu juga. Ada bilik-bilik asmara tersedia disitu.

Pasca digusurnya lokalisasi Gunung Tugel, Bambang mengaku bingung, kemana lagi mencari tempat hiburan. Banyak lokalisasi yang sering didatanginya, namun ia mengaku Gunung Tugel sangat berarti baginya. Lokasinya yang berada di ketinggian, jauh dari keramaian, membuatnya lebih nyaman.

BACA:
» Lokalisasi Liar Gunung Tugel Digusur

“Kita hanya was-was jika ada razia. Tapi belum pernah kegaruk. Kita paham, waktu aman untuk bersantai di Gunung Tugel,” ungkap Bambang.

Lokalisasi Gunung Tugel kini tinggal kenangan. Dari cerita warga sekitar, sebelum menetap di tempat yang sekarang digusur, lokalisasi ini sempat berpindah-pindah. Nama Mbah Harjo Kubis, adalah nama yang disebut-sebut sebagai perintis, atau yang membabad alas lokalisasi Gunung Tugel pada tahun 1970-an.

Berawal dari rintisan Mbah Harjo Kubis inilah, lokalisasi bisa berkembang menjadi sekarang. Dan bisnis Mbah Harjo Kubis ini, berlangsung turun temurun hingga kini. Dari enam rumah induk semang yang ada di lokalisasi, ada salah satunya milik anak turun Mbah Harjo Kubis.

Pasca Mbah Harjo Kubis, ada nama Mbah Wiji, yang kesohor sebagai mucikari berpengalaman. Pengalaman Mbah Wiji ini, didapatnya dari lokalisasi Kalijodo, Jakarta. Di tangan Mbah Wiji ini, lokalisasi Gunung Tugel terus berkembang hingga bisa menjadi seperti sekarang dan akhirnya digusur pemerintah.

Sudah 3 kali berganti generasi, penerus ‘bisnis lendir’ di Gunung Tugel . Terakhir, terdapat enam petak rumah yang digunakan sebagai induk semang yang membawahi beberapa anak buah di tiap-tiap rumah.

Dalam setiap rumah, terdapat banyak bilik berukuran kecil, yang digunakan sebagai tempat berkencan. Data terakhir, terdapat sekitar 40 PSK penghuni Gunung Tugel. Dari jumlah sebanyak itu, 25 diantaranya berasal dari Purworejo sendiri.

Entahlah, meski tak ada penerangan lampu listrik dan air, Gunung Tugel, atau yang juga dikenal dengan istilah Ngebong, menjadi lokasi favorit para lelaki hidung belang. Namun semuanya itu, kini tinggal kenangan.

Pemerintah Kabupaten Purworejo membongkar paksa bedeng lokalisasi Gunung Tugel. Perda No11 tahun 2012 tentang IMB, Perda no 8 tahun 2014 tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan, dan Perda no 6 tentang Penanggulangan Prostitusi, menjadi dasar tindakan pemerintah.
 
 
jon