Edarkan Hexymer, Dua Pemuda Ditangkap Polisi

    


Dua pengedar Hexymer, DP (26) dan JA (19), warga Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kebumen, kini ditahan polisi dengan sejumlah barang bukti - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – DP (26) dan JA (19), dua pemuda warga Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kebumen, terpaksa berurusan dengan polisi dari Satresnarkoba Polres Kebumen. Keduanya ditangkap pada Selasa (23/4) dan Rabu (24/4), di terminal Jatijajar, Kecamatan Ayah dan Sokaraja, Banyumas.

Penangkapan terhadap keduanya, karena adanya informasi dari masyarakat, tentang adanya peredaran obat Hexymer di terminal Jatijajar. Demikian dijelaskan Kapolres Kebumen, AKBP Robertho Pardede melalui Kasat Resnarkoba AKP Mardi, Kamis (25/4/2019).

“Setelah itu kita lakukan penyelidikan, hingga akhirnya kita bisa menangkap dua tersangka ini di dua lokasi yang berbeda,” kata Mardi, didampingi Kasubbag Humas AKP Suparno.

Menurut Mardi, obat Hexymer tersebut merupakan obat keras jenis G dari golongan psikotropika yang biasa digunakan untuk menangani pasien parkinson maupun penyakit jiwa. Oleh karenanya tidak dijual bebas dan memerlukan resep dokter dalam penggunaannya.

Efek obat ini, bisa membuat orang merasa tenang dan tidak tegang, ngefly dan bisa menimbulkan halusinasi. Obat ini bisa menimbulkan efek seperti penggunaan narkotika.

“Dari pengakuan kedua tersangka, mereka mengaku mendapatkan obat tersebut dari seseorang berinisial AJ yang kini masih buron,” ungkap Mardi.

Dari kedua tersangka, polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti berupa 4 plastik klip warna bening yang berisi 10 butir obat Hexymer, 25 paket obat Hexymer masing-masing berisi 10 butir, serta 1 butir obat Hexymer kemasan plastik klip warna bening, uang sebesar Rp 30 ribu dan satu buah handphone.

Setiap 4 paket obat tersebut, terang Mardi, dihargai Rp 200 ribu. Kedua tersangka ini diberi imbalan uang mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu oleh AJ. Selain mendapatkan uang, keduanya juga diberi imbalan obat Hexymer untuk dikonsumsi sendiri.

“Kedua tersangka dijerat dengan pasal 196 Jo pasal 98 (2) UU RI tahun 2009 tentang kesehatan dan pasal 196 UU nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 1 Miliar,” pungkas Mardi. (jon)