Ditemukan Batuan Mirip Altar Pemujaan, Warga Sebut Candi Wurung

    


Bebatuan yang diyakini warga sebagai bagian dari bangunan candi kuno, yang ditemukan di Dusun Krajan, Desa Kebonsari, Purwodadi, Purworejo - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Masyarakat Purworejo dihebohkan dengan penemuan bebatuan mirip altar pemujaan, di Dukuh Krajan RT 02 RW 01, Desa Kebonsari, Kecamatan Purwodadi, pada Selasa (13/6) siang, sekitar jam 14.00 WIB.

Menurut Adib Ariyadi (45), perangkat desa setempat, penemuan bermula, saat ada penggalian proyek parapet, atau tanggul pengaman sungai di pinggiran kali Bogowonto, yang dilaksanakan oleh PT Hutama Karya.

Saat penggalian sampai lokasi, tiba-tiba saja alat berat menyentuh bebatuan besar yang membentuk kotak sedemikian rupa, dengan ukuran panjang 165 cm, lebar 65 cm, dan tinggi 50 cm, mirip altar pemujaan.

Kemudian, batu tersebut diangkat ke permukaan. Saat akan melanjutkan penggalian, alat berat kembali menyentuh banyak bebatuan berukuran kotak yang tersusun rapi. Untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan, penggalian pun dihentikan.

“Rencana kita mau menggali sepanjang 700 meter untuk proyek parapet ini. Tapi baru jalan 200 meter, alat berat kami menyentuh batu, yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai bagian dari bangunan candi,” jelas Bayu Pangarso (31), wakil pelaksana proyek parapet tersebut, saat mendampingi Adib.

Usai menemukan bebatuan dan bangunan, yang diyakini warga setempat sebagai bangunan kuno yang diduga candi tersebut, pihak desa sudah melaporkannya ke kecamatan. Namun hingga kini, belum ada tindak lanjut dari instansi terkait.

Menurut Adib, untuk memastikan apakah bebatuan dan bangunan mirip altar tersebut benar-benar candi, memang diperlukan penelitian oleh ahlinya. Namun keyakinan masyarakat setempat kalau itu bangunan candi, berdasarkan cerita turun temurun para sesepuh setempat.

“Ada yang menyebutnya candi wurung. Jauh-jauh hari sebelum penggalian parapet memang sudah ada yang memberi tahu, kalau lokasi ini tempat candi wurung berada,” terang Adib.

Hal ini dibenarkan oleh Barnawi (50), warga setempat. Dari cerita kakek buyutnya, bahwa lokasi penemuan bangunan kuno tersebut, dulu-dulunya merupakan bangunan candi yang gagal dibangun, hingga akhirnya disebut candi wurung.

“Konon, di sini mau dibangun candi, pada jaman sebelum Majapahit. Namun karena kamanungsan, akhirnya gagal dibangun. Itulah kenapa disebut candi wurung,” jelas Barnawi.

Hingga kini, kabar penemuan ‘candi kuno’ ini menjadikan warga penasaran. Tiap hari, ada saja warga yang berdatangan untuk memastikannya.
 
 
Jon