Dirjen Kebudayaan Salurkan Bantuan kepada 59 Ribu Pelaku Budaya

    


Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI Hilmar Farid usai penutupan Rakornas Kebudayaan di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Jumat, 20 Desember 2019 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – 59 ribu pelaku budaya mendapatkan bantuan pembinaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bantuan senilai Rp 1 juta per orang itu, untuk mengangkat kembali kreatifitas pelaku budaya yang aktifitasnya terdampak pandemi Covid-19.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid mengatakan, ada 10 ribu pelaku budaya yang telah menerima bantuan itu. Sedangkan bantuan dianggarkan untuk 59 ribu pelaku budaya di seluruh Indonesia.

“Kami berharap bantuan ini bisa membuat kreatifitas kita tetap menggeliat di masa pandemi,” ujar Hilmar, Senin (9/11/2020).

Hilmar mengatakan, per 3 November 2020 masih ada 232 penerima APB tahap 1 yang penyalurannya perlu perbaikan data. Sementara untuk APB tahap II, seluruh calon penerima bantuan harus segera melengkapi data melalui laman Kemdikbud.

“Memang dalam proses pencairan APB, terutama di tahap 1, terdapat sejumlah hambatan dalam pelaksanaan. Terima kasih atas kesabaran pelaku budaya dalam proses pencairan bantuan,” kata Hilmar.

Salah satu penerima APB asal Depok, Jawa Barat Siti Rukoyah mengatakan, bantuan tersebut sangat bermanfaat untuk tetap membuatnya karya. Meskipun aktifitas perhelatan budaya menurun saat pandemi.

“Harapan saya semoga program ini menjadi keberkahan untuk kita semua terutama untuk para seniman,“ kata Rukoyah.

Apresiasi Pelaku Budaya (APB) adalah program pemberian layanan pelindungan pelaku budaya terdampak pandemi Covid-19. Program ini merupakan sebuah usaha pembinaan terhadap para pelaku budaya yang aktivitas budayanya terdampak akibat wabah Covid-19.

Sementara, Mendikbud Nadiem Makarim melihat, di tengah pandemi, para pegiat budaya masih bersemangat untuk meningkatkan ekonomi dan membantu para seniman.

“Luar biasa jumlah Penggerak di Bali ini. Setiap kali saat turun ke lapangan, saya melihat pegiat budaya masih memiliki optimisme,” kata Nadiem di Gianyar, Bali, Senin, 9 November 2020.

Bali, kata Nadiem, perekonomiannya terpukul akibat pandemi covid-19. Semua kegiatan pariwisata dan budaya sebagai penopang utama pariwisata mengalami keterpurukan.

“Namun para pegiat budaya disini tetap bersemangat dalam mencari celah untuk mencukupi mata pencaharian mereka,” jelasnya. (Way)