Dedikasi Tim Verifikasi Protokol Era Baru Pariwisata Mendapat Apresiasi

    


Kepala Dinas Pariwisata Putu Astawa (kanan) ketika berada di Santrian Art Gallery Sanur - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Dinas Pariwisata Provinsi Bali memberikan apresiasi kinerja tim verifikasi protokol tatanan kehidupan era baru bidang pariwisata, Rabu, 30 Desember 2020. Apresiasi diberikan sebagai upaya membangun kepercayaan masyarakat luar terhadap kepariwisataan di Bali.

Kepala Dinas Pariwisata Bali Putu Astawa menjelaskan, tim verifikasi telah berupaya dalam memberikan preferensi bagi wisatawan bahwa Bali cukup siap dengan protokol kesehatan. Salah satunya, kerja keras untuk melakukan verifikasi terhadap akomodasi pariwisata.

“Kita berikan apresiasi karena mereka telah bekerja keras, tanpa ada imbalan, tanpa finansial apapun, mereka telah mendedikasikan dirinya untuk kepariwisataan kita,” kata Putu Astawa di Praja Sabha, Kantor Gubernur Bali, Rabu, 30 Desember 2020.

Laporan dari United Nations World Tourism Organization (UNWTO) menyatakan, protokol kesehatan yang diterapkan di Bali lebih baik ketimbang yang ada di Eropa. Sehingga, pihaknya wajib memberikan apresiasi akan hal tersebut.

Kesiapan protokol kesehatan di obyek pariwisata, kata Putu Astawa, sebagai langkah antisipasi jika sewaktu-waktu pariwisata internasional kembali dibuka. Meski saat ini, banyak negara yang melakukan lockdown lantaran munculnya strain baru virus corona, namun kata Astawa, Bali tetap perlu membangun kepercayaan masyarakat luar, bahwa Bali aman dan siap menyambut wisatawan.

Saat ini, kebijakan terarah pada wisatawan nusantara yang juga berpotensi mendatangkan devisa. Namun, kata Astawa tetap dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat untuk menghindari munculnya klaster baru pariwisata.

“Dengan kebersamaan saya yakin, bersama teman-teman pariwisata yang mumpuni di bidangnya,” kata Astawa.

Di sisi lain, pihaknya tidak menampik persoalan klasik yang tetap terjadi yakni, kerumunan. Kondisi itu menjadi perhatian dan evaluasi. Pihaknya mendukung sosialisasi secara masif untuk mengingatkan pentingnya menjaga jarak antar individu.

Situasi itu, kata Putu Astawa, sebenarnya telah diatur dalam regulasi baik di tingkat daerah maupun pusat. Kerjasama dengan TNI/Polri dalam penegakan disiplin prokes juga secara rutin dilakukan.

“Selama ini evaluasi kami di lapangan, soal kerumunan, memang belum tertib. Sebenarnya law enforcement sudah berjalan, namun masih perlu disosialisasikan lebih luas dan berulang, untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat,” jelas Putu Astawa.

Sampai saat ini, jumlah hotel di Bali yang telah mengantongi sertifikasi CHSE sebanyak 220 hotel dari sekitar 500 hotel. Hanya saja, situasi pandemi yang berakibat adanya batasan pergerakan manusia membuat hotel yang telah terverifikasi CHSE belum dibuka.

“Ada juga yang belum mengajukan verifikasi karena pertimbangan, belum adanya wisatawan yang masuk, khususnya dari internasional,” ujarnya. (Way)