Dari Seminar tentang Prasasti Watukura: Kuliner Mataram Kuno, Potensi Tersembunyi Purworejo

    


Pelaksanaan Seminar tentang Prasasti Watukura dan Gastronomi Kuliner Mataram Kuno, di Museum Tosan Aji Purworejo, Senin (29/11/2021), yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Purworejo - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Purworejo menyelenggarakan seminar tentang Prasasti Watukura dan Gastronomi Kuliner Mataram Kuno, di Museum Tosan Aji Purworejo, Senin (29/11/2021).

Dalam seminar terungkap bahwa kuliner masyarakat Watukura yang saat ini terletak di Kecamatan Purwodadi, diperkirakan menjadi tren pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Aneka menu kuliner itu dinilai menjadi potensi yang masih tersembunyi dari Kabupaten Purworejo.

Watukura yang sekarang menjadi nama desa di Kecamatan Purwodadi itu, juga diyakini menjadi tempat “lungguh” atau asal Rake Watukura Dyah Balitung, salah satu raja besar Kerajaan Mataram Kuno.

Seminar tersebut menghadirkan ahli filologi atau peneliti naskah kuno Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Sudibyo, M.Hum dan pemerhati sekaligus peneliti kuliner Mataram Kuno Ir Sumartoyo.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Purworejo mengundang sejumlah komunitas pemerhati heritage, pemerhati sejarah, dan praktisi kuliner Purworejo secara terbatas dalam seminar luring serta daring itu.

Dr Sudibyo, M.Hum mengatakan, Watukura diyakini merupakan daerah yang kaya potensi, termasuk kuliner. Masyarakat Watukura tempo dulu mengolah berbagai hasil laut, ternak, dan sayuran menjadi aneka menu.

“Prasasti Watukura menjelaskan secara lengkap tentang kuliner pada masa Dyah Balitung,” katanya.

Dalam prasasti, kuliner khas itu disajikan ketika Dyah Balitung mengadakan upacara penetapan Watukura menjadi “shima” atau wilayah perdikan yang bebas pajak.

Prasasti menulis menu “deng kakap” (dendeng kakap), “kadiwas” (sejenis ikan laut), “tangiri” (ikan tengiri), “huran” (urang), dan “hnus” (cumi-cumi).

“Menu yang sangat wajar jika dikaitkan bahwa wilayah Watukura itu berada di dekat muara Sungai Bogowonto. Saya berharap gayung bersambut, artinya potensi itu ditindaklanjuti pemerintah dan diangkat, misalnya disajikan dalam peringatan Hari Jadi Purworejo,” terangnya.

Ir Sumartoyo menambahkan, aneka kuliner Mataram Kuno berhasil direkonstruksi dan dimunculkan lagi pada zaman sekarang. Jenis makanan yang ‘dihidupkan’ itu antara lain “Rumbah Hadang Prana” (glinding/bola-bola daging kerbau), “Harang-harang Kidang” (rusa bakar), “Knas Kyasan” (kicik daging rusa), “Wdus Gunting”, “Harang-Harang Kyasan” (sidat bakar), “Klala Wagalan” (ikan bumbu kuning), “Kwelan Harryas” (bumbu ares), “Sekul Paripurna” (tumpeng), “Dwadal Duren”, serta minuman “Kinca”, “Jatirasa”, dan tuak.

“Sudah berhasil direkonstruksi dengan model sekarang, tetapi tetap tidak meninggalkan kearifan lokal, seperti dimasak tanpa bahan kimia,” ungkapnya.

Dikatakan, kuliner yang dulu pernah ada dan kala itu diperkirakan menjadi tren setter masyarakat Mataram Kuno, merupakan potensi unggul Kabupaten Purworejo.

“Kuliner itu memang benar adanya, secara ilmiah dapat dibuktikan dan tidak mengada-ada. Kuliner kuno itu potensi yang besar bagi Purworejo,” tegasnya.

Sementara itu, Kabid Kebudayaan Dyah Woro Setyaningsih menuturkan, seminar tersebut diselenggarakan untuk menggali nilai yang masih tersembunyi di balik sejarah Prasasti Watukura.

“Tidak hanya itu, akan dibahas juga soal kuliner khas era Kerajaan Mataram Kuno,” tuturnya.

Menurutnya, sejarah itu penting diketahui sehingga bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat Kabupaten Purworejo.

“Akan muncul kebanggaan bahwa Purworejo adalah daerah kaya potensi si masa laku, selain itu ke depan harapannya potensi itu dapat dikembangkan menjadi sebuah destinasi,” tandasnya. (Jon)