Dari Lapak Pinggir Pantai, Made’s Warung Jadi Langganan Presiden dari Jaman ke Jaman

oleh
Made's Warung di kawasan Seminyak, Bali - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Lebih dari setengah abad Made’s Warung atau Warung Made tetap bertahan di tengah selera kuliner di jantung wisata Bali, Kuta dan Seminyak. ‘Warung tradisional’ Bali itu juga menjadi tempat favorit kepala negara dari jaman ke jaman.

Made Raymond pengelola generasi ketiga Made’s Warung mengungkapkan, cikal bakal usaha yang dirintis neneknya yang bernama Ni Nengah Roti, berasal dari warung sederhana pinggir jalan yang berjarak 500 meter dari Pantai Kuta.

“Sebenarnya usia Made’s Warung lebih dari 54 tahun tapi kita tetapkan berdiri tahun 1969. Dulu pertama dirintis layaknya warung tradisional pada umumnya, jual kopi, pisang goreng, tipat cantok atau camilan lain,” kata Raymond saat Anniversary 54th Made’s Warung, Sabtu (26/8/2023).

Raymond mengatakan, kunjungan wisatawan ke Bali kisaran tahun 1970 cukup tinggi. Usai perang Vietnam, banyak bule yang berkunjung ke Pulau Dewata. Banyak kaum hippies yang datang berjemur sepanjang hari di pantai.

I Made Raymond, generasi ketiga penerus usaha Made's Warung - foto: Koranjuri.com
I Made Raymond, generasi ketiga penerus usaha Made’s Warung – foto: Koranjuri.com

“Mereka bisa tinggal di sini tiga sampai enam bulan. Karena tinggalnya cukup lama, mereka bikin sendiri makanan mereka di kitchen kita waktu itu. Dari situlah ibu saya (Ni Made Marsih) mulai tahu selera makanan para turis dari berbagai bangsa itu,” cerita Raymond.

Dalam perjalanannya, Made’s Warung semakin berkembang dan terkenal hingga jadi ikon sebagai usaha kuliner pertama yang ada di Bali. Bahkan, kepala negara yang mempin negeri ini semuanya pernah singgah di Made’s Warung.

“Dari mulai Presiden Sukarno, Soeharto sampai Presiden Jokowi sekarang pernah mampir kesini,” kata Raymond.

Sebagai generasi ketiga penerus usaha, Raymond saat ini mengelola 6 cabang yang tersebar di Bali, Jakarta dan Amsterdam, Belanda. Dirinya tetap mempertahankan kuliner khas Bali sebagai maskot usahanya. Namun, untuk diterima pasar wisatawan asing, Made’s Warung juga merambah masakan Eropa.

“Kuliner yang tetap bertahan dari awal sampai sekarang adalah puding ketan hitam,” ujarnya.

Menu tersebut juga sarat dengan kisah pertemuan orang tua Raymond, Ni Made Marsih dan ayahnya Peter Steenbergen berkewarganegaraan Belanda. Sang ayah, kata Raymond, sangat suka dengan puding ketan hitam dan gado-gado. Keduanya kemudian menikah di tahun 1974.

“Ada satu menu legendaris lagi namanya Jaffle tapi sekarang menu itu belum kita siapkan lagi,” kata Raymond.

Seperti diketahui, Jaffle adalah roti panggang berisi pisang. Menurut Raymond, saat itu, ayahnya banyak mengajarkan kepada ibunya menu-menu yang disuka para turis. (Way)

Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS

KORANJURI.com di Google News