Dana Desa Untuk Perempuan Masih Minim

    


Louis Virgoana

KORANJURI.COM – Dana desa bukan hanya soal pembangunan infrastruktur. Namun juga menyasar ke seluruh sumber daya yang dapat ditingkatkan dari anggaran tersebut.

Upaya itu dilakukan oleh para kader perempuan di 7 desa di Tabanan agar mendapatkan dana desa untuk meningkatkan sumber daya masyarakat agar mandiri secara ekonomi.

Louis Virgoana dari Desa Dauh Peken, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Dirinya melihat, banyak persoalan di desa yang tidak tercover oleh dana desa. Menurutnya, selama ini pengurus desa atau pengelola dana desa memfokuskan anggarannya untuk pembangunan fisik.

“Pertama kali adalah memahami bahwa ada anggaran yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan desa. Selama ini banyak kasus yang sebenarnya dapat di-cover oleh desa, tapi itu seperti terabaikan,” jelas Louis, Jumat, 16 Agustus 2019.

Sebagai kader, dirinya mulai bergerak dan menjelaskan sasaran dana desa yang dapat digunakan untuk kepentingan yang lebih luas. Louis mengatakan, selama ini bahkan masyarakat tidak memahami atau mengabaikan ketersediaan dana desa setiap tahun.

Louis menyampaikan, dari situ perlu ada sosialisasi kepada masyarakat bahwa kelompok-kelompok minoritas seperti kaum difabel, anak-anak terlantar maupun lansia, berhak mendapatkan dukungan dari dana desa.

Selama turun di masyarakat, dirinya mendapati seorang penyandang difabel yang memiliki usaha rumahan berupa kerajinan tangan. Produk yang dihasilkan juga mampu bersaing di pasar.

“Hal-hal seperti itu yang kurang diperhatikan oleh pemerintah desa. Maka dari itu, kami memberikan pendampingan agar kemampuan mereka disuuport oleh dana desa,” jelas Louis.

Ervie, masyarakat dari Desa Geluntung, Tabanan juga menjadi salah satu kader desa yang memiliki pandangan yang sama dalam membangun sumber daya masyarakat desa. Menurut Ervie, masyarakat berhak tahu ada anggaran desa yang dapat dipergunakan untuk peningkatan kapasitas dan skill masyarakat desa.

“Selama ini hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui dan diundang dalam pembahasan dana desa. Padahal, seluruh masyarakat desa memiliki hak yang sama,” ujarnya.

Ervie mengungkapkan, ia bersama para kader yang lain mendorong kepada aparat desa agar turut melibatkan masyarakat dalam pembahasan dana desa.

“Minimal diundang dan mendengarkan seperti apa dana desa itu dan untuk apa saja peruntukamnya,” kata Ervie.

Memahami persoalan di desa dan mendorong pengelolaan dana desa agar lebih transparan, secara konsisten dilakukan oleh komunitas Manikaya Kauci. Indrawati Zenbem menyebutkan, gender perempuan masih tersekat dalam mengambil peran di desa.

Melalui komunitas Manikaya Kauci, dirinya mendorong kaum perempuan di sejumlahdesa di Bali untuk tampil dan berperan dalam pengelolaan dana desa. Indrawati menegaskan, kaum perempuan juga memiliki hak yang sama.

“Awalnya memang banyak yang ragu dengan kemampuannya. Namun, setelah dilibatkan dan ada beberapa yang mulai mengelola anggaran dari dana desa, ada kepercayaan diri muncul yang akhirnya akan berimbas pada peningkatan kapasitas masyarakat,” jelas Zein

“Memulainya memang dari pemahaman dulu. Dari situ pasti akan berkembang lagi yang menyentuh persoalan yang ada di masyarakat, terutama yang menjadi bidang para kader perempuan ini,” tambahnya demikian. (Way)