Cotton Club Malam Penghargaan untuk Talenta Berbakat

    


Seycil Ciceylia Sinaga, CEO Global Event Management (GEM) - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Gerakan hak sipil warga Afrika-Amerika untuk mendapatkan kesetaraan ras melatarbelakangi event bertajuk Cotton Club. Event tersebut menurut pencetusnya, Seycil Ciceylia Sinaga, CEO Global Event Management (GEM) menginspirasi dirinya untuk membuat sebuah malam penghargaan bagi para Local Heroes.

Seycil menyebut, cerita yang berkembang di Cotton Club, menyerupai kisah para Local Heroes yang memiliki skill mumpuni namun dipandang sebelah mata di negeri sendiri.

“Banyak kasus yang terjadi, kita punya talenta-talenta besar namun nasibnya sangat ironi, karena skill dan dedikasinya seperti diabaikan oleh lingkungan kita sendiri,” jelas perempuan asal Sumatera Utara ini, Rabu, 10 April 2019.

Berangkat dari situ, dalam setiap event Cotton Club selalu mengundang sosok dengan yang memiliki talenta tinggi. Pada event Cotton Club yang diadakan di Rebenga Lounge & Kitchen, Rabu (10/4/2019), hadir Remy Irwan Cello yang merupakan DJ profesional dengan jam terbang 30 tahun di musik Techno.

Selain itu dihadirkan pula, Ayip Dzuhri, mixologist yang memiliki prestasi internasional. Dikatakan Seycil, para Local Heroes itu bukan hanya punya skill tinggi di bidang masing-masing, namun juga turut mengharumkan nama Indonesia di mancanegara.

“Di Cotton Club ini mereka menunjukkan skill nya secara bebas sesuai insting dan nalurinya. Bisa jadi ketika mereka perform di tempat lain, lebih diatur oleh kebutuhan company, tapi disini mereka bebas berekspresi,” ujar Seycil.

Event regular itu, menurut Seycil, sudah berjalan selama setahun. Pihaknya selalu memilih lokasi club yang agak tersembunyi untuk mendekatkan dengan situasi Cotton Club di era 1920-an.

Ada tiga tempat yang selama ini digunakan sebagai ajang Cotton Club yakni, Jambul Uwuk di Petitenget, Opera yang memiliki komunitas bilionare dan Rebenga Lounge & Kitchen.

Cotton Club merupakan sebuah club malam di Harlem, New York. Ketika paham ras antara kulit hitam dan kulit putih masih berkembang kuat, club malam itu justru menghadirkan seniman-seniman yang berasal dari kulit hitam.

Dari Cotton Club itu pula lahir musisi-musisi terkenal pada jamannya seperti, Fletcher Henderson, Duke Ellington, Jimmie Lunceford, Chick Web hingga Louis Armstrong.

“Harapan saya dengan event Cotton Club yang saya bangun ini akan lebih banyak Local Heroes yang kita undang untuk memberi inspirasi talenta-talenta lain meraih prestasi setinggi-tingginya,” jelas Seycil. (Way)