Catatan Komjen Listyo Sigit Purnomo, dari ‘Pelayan’ Ulama hingga Pengungkapan Kasus Besar

    


Foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencatatkan prestasi gemilang dalam kinerja 100 hari menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri.

Komjen Listyo Sigit Prabowo dilantik sebagai Kabareskrim Polri pada 16 Desember 2019. Sejumlah pekerjaan rumah (PR) menanti. Presiden Joko Widodo saat itu langsung meminta agar Listyo dapat menyelesaikan kasus-kasus besar dalam waktu 100 hari.

Sejumlah kasus besar di negeri ini berhasil diungkap. Dua diantaranya adalah, penangkapan pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Jajaran Bareskrim Polri juga berhasil membongkar sederet kasus narkoba besar sepanjang Januari hingga April 2020.

Di bawah Direktorat Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri, jaringan lokal dan jaringan internasional ditangkap satu persatu. Sebut saja pengungkapan 70 kilogram sabu yang disembunyikan menggunakan tumpukan ikan asin.

Dalam kasus ini, polisi menangkap dua tersangka berinisial DN alias AH dan SB alias KB pada Sabtu 18 Januari 2020 di Tangerang, Banten. Polisi juga mengamankan 24 kilogram sabu dan 1.000 butir pil ekstasi yang disita dari lima tersangka kurir narkoba jaringan internasional Malaysia.

Praktis, kinerja Bareskrim Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol Idham Azis berhasil membongkar sejumlah kasus yang menjadi perhatian publik.

Dekat dengan Ulama

Semasa menjabat Kapolda Banten, dia berhasil mendekatkan diri dan membuka ruang dialog dengan para ulama berpengaruh di Provinsi Banten, sebut saja, Abu Muhtadi ulama asal Banten yang juga tokoh FPI.

“Pertama kali saya datangi Abuya Muhtadi (ulama asal Banten), tokoh FPI (Front Pembela Islam), Ustas Kurtubi, dan Martin Syarkawi. Kemudian saya keliling, (mengunjungi) tokoh Pandeglang. Beliau salah satu pemimpin pesantren di Tebuireng 008,” ujarnya.

Listyo mengatakan, kunci suksesnya adalah niat menjalankan tugas negara sebagai aparatur penegak hukum. Dia datang untuk mengemban tugas demi menjamin keamanan warga Banten kala itu.

Listyo bahkan mengakui, tak meminta apa pun kepada para ulama. Dia hanya menyebut ‘akan menjadi pelayan’ saat warga meminta tolong jika terbelit masalah.

“Saya siap jadi pelayan bapak-bapak,” ujarnya.

Listyo terus mendekatkan diri kepada para ulama dengan metode dialog dari pintu ke pintu. Rupanya strategi ini efektif. Dengan membuka ruang dialog, lambat laun keberadaannya diterima oleh ulama.

Dia bahkan tak sungkan memberikan kontak personal kepada ulama untuk memastikan bahwa tak ada jarak antara tokoh agama, masyarakat, dan pejabat kepolisian.

Kedekatannya dengan tokoh ulama akhirnya membawa hasil, Listyo sukses mengajak para ulama ke Istana Negara untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo.

Berbekal kedekatannya dengan Jokowi, Listyo mempertemukan ulama dengan Presiden pada bulan November 2016.

“Karena mereka itu kan kadang enggak paham sosok Jokowi. Jadi (supaya) ada komunikasi saya fasilitasi,” kata Listyo dalam sebuah wawancara.

Bermental sebagai pelayan masyarakat itulah akhirnya Listyo dipercaya Kapolri Jenderal Pol Idham Azis menjabat sebagai Kepala Bareskrim Polri akhir tahun 2019 lalu. (Bob)