Butuh Bantuan, Keluarga ini Nyaris Tak Bersisa Karena Penyakit Parkinson

    


Sadiyem di depan rumahnya yang sangat sederhana di Desa Tegalkuning RT 2 RW 4, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah - foto: Sujono

KORANJURI.COM – Nasib yang dialami keluarga Nyonya Sudiyem, 62, ini sungguh tragis. Satu persatu anggota keluarganya meninggal karena digerogoti penyakit Parkinson, penyakit yang menyerang syaraf hingga menyebabkan kelumpuhan. Ia tinggal di Desa Tegalkuning RT 2 RW 4, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Ya, keluarga Sudiyem kini tengah ‘terancam’ jiwanya. Anggota keluarganya yang kini masih tersisa, terindikasi penyakit yang telah merenggut nyawa suami dan 3 anaknya itu.

“Dari 8 anak, sudah 3 yang meninggal karena penyakit Parkinson ini. Dan saat ini, 2 dari 5 anak yang tersisa sudah mulai terkena penyakit aneh itu. Kita takut, penyakit ini akan menular,” ujar Ny. Sudiyem dengan nada galau, saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.

Sudiyem juga semakin takut, jika 3 anaknya yang lain yang kini masih sehat, juga bisa terkena Parkinson. Karena, dari penuturan Sudiyem, penyakit yang telah merenggut nyawa keluarganya itu, datangnya secara tiba-tiba, tanpa diawali gejala yang mudah dikenali.

Ditengah kemiskinan hidup yang menderanya, Sudiyem hanya bisa pasrah, berserah diri pada Yang Maha Kuasa. Dia hanya bisa berusaha semampunya, mengingat kehidupannya sangat sulit.

Tanpa penghasilan yang pasti, janda 8 anak ini harus menghidupi 5 anggota keluarganya, yang terdiri dari 3 anak, dan dua cucunya dari anaknya yang telah meninggal karena penyakit Parkinson itu.

“Entah dosa apa yang telah kami perbuat, sehingga Tuhan memberikan cobaan yang begitu berat ini,” ujar Sudiyem dengan mata berkaca-kaca menahan kesedihannya.

Penyakit Parkinson telah merenggut nyawa suaminya, Masnu, dan 3 anaknya yang lain. Dan gejala ini, juga sudah menyerang anaknya yang nomer 2, Dwi Fariyanto (37), dan anaknya yang paling bungsu, Rahmad Hadi Saptono (20).

Dwi Fahriyanto, kini harus hidup diatas kursi roda. Tubuhnya sudah tak bisa digerakkan lagi karena menderita kelumpuhan. Karena penyakitnya itu, Dwi Fahriyanto ditinggalkan anak dan istrinya.

Meski menderita kelumpuhan, namun Dwi Fariyanto masih bisa berkomunikasi dengan baik. Sehari-hari, Dwi ini hanya bisa duduk di kursi roda, tanpa bisa beraktifitas sama sekali. Semenjak ditinggal anak istrinya, Dwi kini tinggal bersama ibunya, dan menjadi tanggung jawab Nyonya Sudiyem.

Sementara Rahmad, anak Sudiyem yang paling bungsu, juga sudah mulai susah berjalan. Rahmad merasa kesusahan mengangkat tubuhnya sendiri. Ketika baru berjalan beberapa langkah saja, Rahmad yang jalannya sempoyongan itu terjatuh.

“Langkahnya gemetaran dan sempoyongan, persis seperti orang mabuk. Dulu bapaknya sebelum meninggal juga sama seperti dia. Sebelum akhirnya meninggal, suami saya sempat lumpuh di tempat tidur hingga bertahun-tahun,” cerita Sudiyem.

Pasca meninggalnya sang suami, ekonomi keluarganya jadi morat marit. Dia kini jadi orangtua tunggal, yang harus menghidupi anak-anak dan cucunya. Untuk bisa bertahan hidup, Sudiyem bekerja apa saja.

Kalau panen, dia jualan dawet dan es di sawah. Dari situ, dia bisa dapat gabah. Setelah terkumpul, gabahnya dijual, lalu dibelikan beras jatah yang murah. Anehnya, meski termasuk keluarga miskin, Sudiyem tak tersentuh bantuan dari pemerintah,” kata Sudiyem, menceritakan bagaimana dia mencari nafkahnya.

“Karena pemerintah sudah tak peduli lagi, kami berharap agar ada dermawan yang terketuk hatinya, melihat penderitaan keluarga kami ini,” pungkasnya.
 
 
jon