BI Minta Perhatikan Komoditas ini Jelang Hari Raya Galungan Kuningan dan Lebaran

    


Kepala Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Trisno Nugroho - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Bank Indonesia menekankan tiga komoditas yang perlu diperhatikan menyambut hari raya Galungan dan Kuningan 2021. Secara historis, komoditas itu sering mengalami kenaikan harga pada hari raya Galungan, Kuningan dan Lebaran.

Tren kenaikan harga itu terlihat berulang dalam periode tiga tahun terakhir. Komoditas yang dimaksud yakni, cabai merah, cabai rawit dan canang sari.

Kepala Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Trisno Nugroho menjelaskan, data pada sistem informasi harga komoditas pangan mencatat, harga cabai rawit yang sebelumnya sempat menyentuh harga Rp 120.000/kg, pada akhir Maret 2021 sudah kembali di bawah Rp 100.000/kg.

“Namun demikian, beberapa komoditas terpantau mengalami lonjakan harga pada awal April 2021, diantaranya daging babi, minyak goreng dan cabai merah,” kata Trisno Nugroho, Kamis, 8 April 2021.

Di sisi lain, BI juga mengingatkan potensi kenaikan inflasi di Bali tahun ini dibanding tahun sebelumnya. Hal itu didorong oleh beberapa faktor diantaranya, meningkatnya aktivitas pariwisata pasca covid-19, peningkatan daya beli masyarakat, normalisasi harga tiket angkutan udara, peningkatan cukai rokok, dan kenaikan biaya sekolah.

Sepanjang Maret 2021, inflasi di Provinsi Bali tercatat sebesar 0,52% (mtm) atau 0,84% (yoy). Secara spasial, inflasi bulanan Kota Denpasar dan Kabupaten Singaraja masing-masing sebesar 0,47% dan 0,81%.

Dibandingkan kota/kabupaten lain di tingkat nasional, inflasi Kabupaten Singaraja menduduki peringkat ke-4, sementara Kota Denpasar menempati urutan ke-9.

“Jenis komoditas, cabai rawit dan daging ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi bulan Maret 2021,” kata Trisno.

Bank Indonesia merekomendasikan sejumlah kebijakan pengendalian inflasi di Provinsi Bali yaitu, pembentukan BUMD pangan untuk meningkatkan serapan produksi pertanian dan meningkatkan kualitas produk lokal, memperluas cakupan pasar yang disurvei dalam rangka melengkapi data harga bahan pangan.

Selain itu, BI juga mendorong perluasan penggunaan controlled atmosphere storage (CAS) sebagai tempat penyimpanan surplus produksi, menjalin kerja sama perdagangan antar daerah baik intra provinsi, maupun antar provinsi.

“Termasuk pemanfaatan aplikasi digital untuk mendorong kenaikan hasil produksi dan kelancara distribusi, dan edukasi kepada masyarakat untuk belanja bijak dan pemanfaatan pekarangan untuk penanaman komoditas bahan pangan,” kata Trisno.

Sebelumnya, pada Rabu, 7 April 2021, dilakukan high level meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bali. Rapat dipimpin langsung oleh Gubenur Bali, Wayan Koster, selaku Ketua TPID Provinsi Bali dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho selaku Wakil Ketua TPID Provinsi Bali. Rapat diikuti oleh seluruh Kepala Daerah Kota dan Kabupaten se-Provinsi Bali, serta seluruh anggota TPID Provinsi Bali. (Way)