BI-IFC Gelar Seminar Internasional Big Data

    


Erwin Rijanto (tengah) dan Yati Kurniati (kanan) - foto: Ari Wulandari/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Bank Indonesia (BI) bekerjasama dengan Irving Fischer Committeeon Central Bank Statistic (IFC) menggelar seminar internasional Big Data dengan tema ‘Building Pathways for Policiy Making with Big Data’.

Seminar yang digelar Kamis (26/7/2018) di Nusa Dua itu dihadiri sejumlah pembicara dari lembaga keuangan internasional, bank sentral, akademisi serta praktisi Big data. Seminar itu diikuti 200 peserta dari 21 negara.

Seminar ini merupakan inisiatif BI untuk menggagas suatu forum berskala internasional yang dapat menjadi ajang berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam hal pemanfaatan Big Data antarpemangku kebijakan dari berbagai negara dan komunitas.

“Penerapan Big Data oleh otoritas memiliki peran penting dalam pengambilan kebijakan yang strategis untuk merespon perkembangan ekonomi dan keuangan digital yang diharapkan mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan memanfaatkan Big Data, kami bisa lebih cepat, akurat dan tepat untuk prediktif atau daya prediksi,” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Erwin Rijanto, usai membuka seminar.

Menurut Erwin, sekitar 30 persen bank sentral di dunia memanfaatkan Big Data, termasuk BI karena memudahkan bank sentral dalam melakukan perumusan kebijakan. Perumusan kebijakan itu di antaranya analisis moneter, makroprudensial dan stabilitas sistem keuangan serta menciptakan kebutuhan informasi dan riset baru.

Erwin menyebutkan, beberapa manfaat lain yang diperoleh Bank Sentral diantaranya, indikator baru yang lebih cepat dan lebih sering.

Selain itu, adanya indikator terkait perilaku ekonomi melalui analisis dan pembelajaran data transaksional, dan data tidak terstruktur seperti pemberitaan dan media sosial.

“Kami juga bisa memantau ekspektasi dan persepsi publik atas kebijakan BI secara lebih akurat,” katanya.

Meski demikian, tantangan utama pemanfaatan Big Data di Bank Sentral, diantaranya eksplorasi data besar itu memerlukan proses yang kompleks, belum adanya tata kelola yang jelas serta waktu, biaya dan sumber daya manusia yang terbatas dalam pengembangannya.

Sementara, Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI, Yati Kurniati mengatakan, pihaknya telah menginisiasi pemanfaatan Big Data itu pada Oktober 2014.

BI, kata dia, telah melaksanakan sejumlah proyek percontohan pemanfaatan Big Data yang menghasilkan indikator baru.

Indikator itu, terkait lowongan pekerjaan, pasar properti, identifikasi struktur keterkaitan pelaku dalam sistem pembayaran dan persepsi masyarakat.

“Hasil analisis secara periodik, kami sampaikan dan paparkan, misalnya kepada pelaku e-commerce atau properti, sehingga mereka juga bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk menentukan langkah selanjutnya,” tutupnya. (ari)