Bertemu Jusuf Kalla, Bos Bank Dunia Tawarkan Rekonstruksi Pasca Bencana

    


Foto: Ilustrasi

KORANJURI.COM – CEO Bank Dunia Kristalina Georgieva bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Nusa Dua, Bali, Rabu, 10 Oktober 2018. Dalam pertemuan itu Bank Dunia menawarkan kepada RI untuk rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah-daerah yang terkena bencana di Sulawesi dan Lombok.

Georgieva memberikan pernyataan, “Saya senang telah bertemu dengan Yang Mulia Wakil Presiden Kalla hari ini, dan saya berterima kasih kepadanya atas keramahan pemerintah dan warga negaranya.”

Atas nama Kelompok Bank Dunia, kata Georgieva, pihaknya menyampaikan belasungkawa atas serangkaian bencana gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah dan Lombok.

“Pikiran kita adalah orang-orang yang kehilangan nyawa, yang selamat, dan keluarga serta orang-orang terkasih dari semua yang terkena dampak,” ujarnya.

Georgieva kembali menegaskan, Bank Dunia berdiri oleh Pemerintah Indonesia, bersama dengan seluruh komunitas multilateral dan internasional. Sebagai negara yang menghadapi tragedi, Indonesia menjadi negara tangguh dengan pengalaman mengelola kesiapsiagaan, pembiayaan, dan respons bencana alam.

Georgieva menyatakan dukungan Bank Dunia kepada Indonesia untuk membangun ketahanan dan memastikan Indonesia mempertahankan lintasan ekonomi positifnya.

“Saya senang untuk menawarkan dukungan langsung dan kuat kami kepada Pemerintah, jika diperlukan. Dukungan ini tersedia atas permintaan Pemerintah,” kata Georgieva.

Bank Dunia menilai, Indonesia dengan negara terpadat keempat di dunia dan sekarang punya pengaruh, telah menikmati pertumbuhan ekonomi yang kuat dan membuat kemajuan signifikan dalam menanggulangi kemiskinan.

Setelah Tsunami 2004, Bank Dunia, bersama dengan beberapa mitra global, berkontribusi pada upaya pemulihan dan rekonstruksi di Indonesia dengan membentuk Multi Donor Fund untuk Aceh dan Nias. Anggarannya mencapai $ 655 juta untuk membangun kembali 20.000 rumah tahan gempa, jalan sepanjanh 3.850 km, 1.600 km saluran irigasi, 677 sekolah, 500 balai kota, 72 klinik, 8.000 sumur dan sumber air bersih, serta lebih dari 1.200 unit sanitasi.

Bank Dunia telah menyelesaikan penilaian kerusakan awal yang cepat terhadap dampak ekonomi dari kerusakan langsung akibat gempa bumi dan tsunami Sulawesi Tengah.

“Ini adalah masukan pertama untuk mendukung perencanaan pemulihan dan rekonstruksi Pemerintah Indonesia. Hal ini didasarkan pada metodologi pemodelan kerugian terbuka yang dikembangkan oleh Analisis dan Solusi Resiko Bencana dan Risiko Bank Dunia,” jelas Kristalina Georgieva. (Way)