Berikut Buah Karya Koster untuk Publik

    


Pasangan calon gubernur Bali nomer urut 1 I Wayan Koster-Tjok Oka Arta Ardana Sukawati (Koster-Ace) bersama ratusan warga Desa Mendoyo Dangin Tukad, Kecamatan Mendoyo, Jembrana - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Bukan hanya memiliki jiwa birokrat, Calon Gubernur Bali nomer urut 1, I Wayan Koster juga seorang pemikir cerdas dan mampu mengaplikasikan buah pikirannya ke dalam bentuk nyata. Hal itu niscaya tidak akan pernah terwujud jika tidak disertai komitmen tinggi.

Ketika menjabat sebagai anggota Komisi X DPR RI, Koster memang sudah memfokuskan perhatian, salah satunya pada bidang kebudayaan. Lebih dari 300 wantilan, GOR dan gedung serbaguna telah dibangun di seluruh Bali.

“Waktu saya reses di sini salah satu aspirasinya adalah wantilan. Tadi saya diinformasikan jika wantilannya belum cair, makanya saya langsung telepon ke pusat,” cerita Koster saat menggelar simakrama di Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Minggu (10/6/2018).

Di akhir masa jabatan sebagai wakil rakyat di tingkat pusat, Koster memperjuangkan 30 pengadaan wantilan se-Bali. Di Jembrana dapat jatah 5 unit wantilan.  

Secara keseluruhan, Koster menyebut telah membantu pengadaan 35 wantilan di Jembrana. Itu belum termasuk Pura, sekolah dari SD hingga SMU dan bantuan siswa miskin juga maupun sarana olahraga (GOR).

“Ada Universitas Negeri Akademi Komunitas Diploma I dan II, yang mana 80 persen lulusannya terserap di Denpasar. Bantuan infrastruktur untuk hotmiks jalan desa juga, sehingga 90 persen jalan di Jembrana ini sudah bagus, jalan desanya hotmiks semua,” katanya.

Di sektor pertanian, Koster ingin menatanya secara keseluruhan mulai hulu hingga hilir. Bahkan, Koster ingin menjadikan sektor pertanian di Jembrana sebagai proyek percontohan di Bali.

“Nanti kita kembangkan ke semua subak di Bali kalau di Jembrana ini sukses. Bibit unggul padi dari BATAN itu amat bagus meningkatkan kualitas pertanian dan pendapatan petani,” paparnya. 

Di sisi lain, Koster ingin membangun industri pengolahan padi di Jembrana. Tujuannya agar pengolahan padi bisa dilakukan di Jembrana.

“Tidak seperti sekarang, padinya dijual ke Banyuwangi, lalu begitu jadi beras hasilnya dijual lagi ke Bali. Maka kita akan urus keseluruhannya,” tegasnya. 

Nantinya, pendapatan petani berkisar 20-30 persen dari biaya produksi.

“Nanti hasil padinya dibeli oleh BUMD yang dibentuk,” paparnya. Di sisi lain, Koster juga ingin membangun SMA/SMK seperti SMA/SMK Bali Mandara di Kubutambahan, Buleleng.

“Ada asramanya, sekolahnya gratis bagi mereka yang berprestasi dan miskin. Nanti biayanya diambil dari APBD. Lulusan SMA/SMK Bali Mandara di Buleleng itu lulusannya diterima di ITB, UI bahkan luar negeri. Setelah lulus SMA nanti lanjut kuliah program S1, S2 dan S3 dalam dan luar negeri. Syaratnya ikatan dinas dengan Pemprov Bali. Setelah lulus mengabdi untuk Bali,” demikian Koster. (*)