Beragam Budaya dan Keyakinan di Bali, Jadi Fakta Untuk Diperjuangkan Koster

    


Ratusan warga Desa Air Kuning, Kecamatan Jembrana mengikuti kampanye dialogis Koster - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Keberagaman antar-umat beragama menjadi potensi lain yang di miliki Pulau Seribu Pura. Di Bali, umat beragama saling hidup berdampingan dengan rukun. Tak jarang, tradisi, kebiasaan maupun adat istiadat dan budaya dari setiap penganut setiap agama menjadi kekuatan maha dahsyat yang dimiliki pulau berjuluk Seribu Pura ini.

Fakta itu dilihat oleh Cagub Bali nomer urut 1, I Wayan Koster saat berkunjung di Desa Air Kuning, Kecamatan Jembrana. Ratusan warga yang hadir adalah umat Muslim dan Hindu di salah satu wilayah di Bumi Makepung tersebut.

Bahkan, mereka menyajikan kesenian kolaborasi Muslim-Hindu yakni gamelan yang dipadukan dengan rebana. Hasilnya, sangat memukau.

“Di Bali ini kita harus mengedepankan kerukunan hidup antar-umat beragama,” ajak Koster.

Ia tak ingin persinggungan Suku, Agama, Ras dan Antar-golongan (SARA) terjadi di Bali. Sebaliknya, ia ingin persaudaraan antar-umat beragama terus dipupuk, dijalin dan dirawat dengan baik sebagai kekuatan yang dimiliki Bali. 

“Tidak boleh berantem gara-gara SARA, apalagi bentrok antar-ormas. Tidak boleh. Meski Bali ini kecil, sedikit penduduknya, tapi bisa menggetarkan dunia,” papar Koster.

Wayan Koster ingin menjadikan Bali sebagai pilot project implementasi nilai-nilai Pancasila sesuai ajaran Bung Karno. 

“Saya ingin menjadikan Bali sebagai proyek percontohan implementasi nilai-nilai Pancasila sesuai ajaran Bung karno,” tegas Koster.

Salah satunya persatuan, kesatuan dan toleransi antar-umat beragama harus dikedepankan.

“Harus menjaga persatuan dan kesatuan, penuh toleransi, hormat menghormati dalam menjalankan agama,” papar kandidat yang berpasangan dengan Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati itu.

Calon gubernur yang diusung PDI Perjuangan, Hanura, PAN, PKPI, PKB dan PPP itu melanjutkan, diperlukan perlakuan yang adil antar-umat beragama yang ada di Bali.

“Pengayoman, pembinaan dan perlindungan yang sama bagi antar-umat beragama harus dikedepankan. Ini komitmen kami, sungguh-sungguh menjaga Bali ini menjadi wilayah yang kuat, dibangun secara bersama-sama oleh semua masyarakatnya tanpa memandang SARA,” tegas Koster. (*)