Beradaptasi dengan Pandemi, Eks Pekerja Pariwisata Berlatih Membuat VCO

    


Eks pekerja pariwisata di Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali berlatih membuat Virgin Coconut Oil (VCO) - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Mayoritas warga di Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali berprofesi sebagai pekerja pariwisata. Namun, pandemi memaksa mereka harus beradaptasi dengan kondisi.

Selama ini Desa Kemenuh menjadi salah satu destinasi wisata yang bergantung penuh dengan kunjungan wisatawan. Hanya saja, pemerintah pusat dan daerah mengatur agar, tempat-tempat usaha ditutup untuk menekan jumlah penyebaran Covid-19.

Akibatnya, usaha-usaha di Desa Kemenuh pun mengalami imbas dari pandemi Covid-19. Eks pekerja pariwisata itupun putar haluan dengan berlatih membuat produk virgin coconut oil (VCO).

Ketua Badan Usaha Desa Adat Kemenuh Ida Bagus Witara menjelaskan, peluang membangkitkan industri kecil pembuatan VCO akan membantu para pekerja pariwisata yang hingga saat ini belum mendapatkan lapangan pekerjaan.

Lagipula, Desa Kemenuh kaya dengan hasil pertanian buah kelapa. Sehingga untuk mencari bahan baku tidaklah sulit.

“Saya punya ide bagaimana memanfaatkan buah kelapa untuk memberi nilai tambah secara ekonomis kepada masyarakat, terlebih di masa pandemi yang masih berlangsung sampai sekarang,” jelas Witara, Senin, 18 Oktober 2021.

Virgin Coconut Oil (VCO) ini, kata Witara, sangat diminati oleh wisatawan asing sepanjang pariwisata masih berjalan normal. Sehingga menurutnya, ada peluang benefit dan profit yang akan didapat oleh warga Desa Kemenuh dengan memproduksi sendiri minyak kelapa murni tersebut.

Pertama, VCO dan turunan produknya cukup diminati pasar baik dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga, kata Witara, jika kondisi pariwisata belum pulih, produk VCO dapat dijual di tingkat lokal.

Dengan pelatihan yang dilakukan, Witara berkomitmen untuk tetap menjalankan usaha VCO di Desa Kemenuh. Sekalipun, nantinya pariwisata Bali kembali pulih. Ia melihat, produk riil juga memiliki daya penetrasi untuk mendukung pariwisata.

“Kalaupun nanti pariwisata kembali normal, kami tetap mendapatkan nilai tambah, karena produk ini juga sangat disukai wisatawan untuk suvenir. Kalau belum ada kunjungan wisatawan, kami juga tetap bisa menjualnya karena ini real product,” jelasnya.

Pelatihan itu menggandeng lembaga pendidikan Institut Pariwisata dan Bisnis (IPB) Internasional. Dr. Ni Komang Nariani, SE., MM., dari IPB Internasional mengatakan, sebelum memberikan pelatihan, tim melakukan observasi awal di Desa Kemenuh.

Ia menemukan fakta bahwa banyak usaha pariwisata tutup dan karyawan dirumahkan untuk waktu yang tak terbatas.

“Banyak warga masyarakat kehilangan pekerjaan secara otomatis mengurangi pendapatan yang diperoleh sebelum terjadinya pandemi,” kata Komang Nariani. (Way)